You are on page 1of 21

MEMBUAT SOP

LABORATORIUM
K E LO M P O K 1 A
A N G G OTA :
1 . D E A S YA R A N I TA (1710421003)
2. ZALMI SINTIA (1710422001)
3 . H A R D I YA N T I P U R N A M A (1710422037)
4 . A N N I S A A R YA N I P U T R I (1710423017)
4 . FA J R I H I D AYAT (1710423023)
6. YELLA PRASTIKA YUDHA (1710423031)
Pengertian Standar Operasional
Prosedur
“Standar operasional prosedur kerja di laboratorium adalah petunjuk
atau pedoman yang menunjukkan bagaimana laboran harus bersikap
dengan benar dalam melakukan tindakan di laboratorium. Standar
operasional prosedur atau disingkat SOP dalam sebuah laboratorium
sangat diperlukan dalam upaya membentuk sistem pelayanan dan
pengelolaan laboratorium yang ideal.”.
Fungsi Standar Operasional Prosedur
Bekerja di Laboratorium
1. Sebagai dasar acuan dalam melaksanakan kegiatan
artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan
akan mengacu pada Standar Operasional Prosedur
tersebut, tanpa adanya Standar Operasional Prosedur
maka kegiatan tersebut tidak akan berjalan sesuai dengan
yang diharapkan.
2. Menjaga kedisiplinan dan konsistensi kerja pelaksana
maupun pengguna dalam melaksanakan kegiatan
Kedisiplinan ini bukan hanya harus dimiliki oleh laboran
saja, namun juga harus dimiliki oleh petugas dan pegawai
laboratorium yang terkait. Oleh karena itu, adanya Standar
Oprasional Prosedur inilah yang membantu untuk
menciptakan kedisiplinan yang lebih baik.
3. Memperjelas kesulitan, masalah-masalah dan
penyimpangan yang terjadi saat pelaksanaan kegiatan
Fungsi Standar Operasional Prosedur Bekerja di
Laboratorium
4. Membantu dalam mengembangkan dan mengevaluasi setiap proses operasional di laboratorium
Hal ini berkaitan erat dengan fungsi Standar Operasional Prosedur sebagai alat yang
mempermudah untuk menemukan masalah dan kesulitan dalam kegiatan, dengan ditemukannya
kesulitan tersebut maka proses operasional kerja dapat diperbaiki dan dievaluasi agar menjadi lebih
baik lagi.
5. Menjaga ketertiban praktikan dalam pelaksanaan kegiatan
ketertiban ini diperlukan dalam menjaga agar kegiataan dapat terlaksana sesuai dengan yang
diharapkan.
6. Menjadi dasar hukum yang kuat dalam menghadapi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
Dasar hukum ini dapat menjadi acuan dan pedoman dalam mengatasi penyimpangan tersebut.
Standar Operasional Prosedur dalam hal ini dapat menjadi dasar hukum atau penengah terhadap
permasalahan itu.
Tujuan Standar Operasional Prosedur Saat
Bekerja di Laboratorium
1. Memastikan bahwa setiap, langkah, keputusan, tindakan
dan penggunaan fasilitas dilakukan secara sistematis dan
sesuai
Hal ini tentu dibutuhkan agar tidak terjadi penyimpangan
dalam pelaksanaannya dan hasil yang diperolehpun sesuai
dengan yang direncanakan.
2. Menjaga dan menjamin keselamatan pengguna, praktian
atau laboran saat melakukan kegiatan di laboratorium
apabila labor mengikuti dan menjalankan Standar Operasional
Prosedur dengan benar, maka kecelakaan tersebut dapat
diminimalisir atau bahkan tidak akan terjadi.
3. Mengawasi pekerjaan atau kegiatan agar dapat
dilaksanakan secara efisien dan konsisten
Standar Operasional Prosedur dapat membantu dan
mengawasi petugas maupun laboran dalam melaksanakan
tugasnya di laboratorium dengan baik.
Tujuan Standar Operasional Prosedur Saat
Bekerja di Laboratorium
4. Menentukan pembagian kerja dan wewenang dari
pelaksana yang terkait
Dengan adanya aturan-aturan dalam Standar Operasional
Prosedur diharapkan agar petugas dan laboran dapat lebih
bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
5. Meminimalisir kesalahan dan inefisiensi dalam
melakukan pekerjaan
6. Membatasi tugas dan kerja pelaksana yang terkait
Pembatasan tugas dan kerja dalam kegiatan diperlukan
agar memudahkan pelaksana dalam mengerjakannya,
selain itu pembatasan tersebut akan membuat pekerjaan
pelaksana menjadi lebih maksimal.
Standar Operasional Prosedur Laboratorium
Standar Operasional Prosedur bekerja di laboratorium
berpedoman pada UU Nomor:20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, UU RI Nomor:14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen, PP Nomor:19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan dan Kepmendiknas
Nomor 132/D/0/2008.
Standar Operasional bekerja di laboratorium meliputi
peraturan sebelum praktik, selama praktik, selesai praktik
dan beberapa peraturan-peraturan lain. :
a. Sebelum praktikum
Prosedur tersebut antara lain yaitu :
1. Ketua Program Studi bersama dengan Kepala
laboratorium, teknisi, analis serta laboran mengadakan
rapat untuk membahas kesiapan kegiatan praktik dua
pekan sebelum kegiatan tersebut mahasiswa dilakukan;
Tujuan Standar Operasional Prosedur Saat
Bekerja di Laboratorium
2. Kepala Laboratorium bersama dengan teknisi dan laboran
mengecek kesiapan dan kelayakan alat yang akan digunakan.
3. Kepala dan penanggungjawab laboratorium mengecek
kesiapan job-sheet masing- masing laboratorium;
4. Laboran menyerahkan daftar catatan alat kepada
mahasiswa untuk di isi alat apa saja yang akan dipinjam dalam
pelaksanaan praktikum;
5. Laboran menyerahkan alat kepada ketua dan anggota
kelompok mahasiswa/dosen terkait;
6. Mahasiswa atau dosen bersama dengan teknisi, analis atau
laboran bersama-sama mengecek kelayakan alat yang
dipinjam;
7. Jika terjadi ketidaklayakan, alat akan dikembalikan kepada
laboran atau teknisi dan dicatat dalam buku kerusakan alat;
8. Dosen penanggung jawab diwajibkan mengisi Berita Acara
Praktikum yang diketahui oleh penanggung jawab
laboratorium sebelum melakukan praktikum.
Tujuan Standar Operasional Prosedur Saat
Bekerja di Laboratorium
b. Selama praktikum
1. Sebelum masuk ke ruangan praktikum, mahasiswa
harus menggunakan jas praktik sesuai dengan ketentuan
dan tidak membawa tas atau barang bawaan lain yang
tidak diperlukan dalam praktikum masuk ke laboratorium;
2. Mahasiswa harus mengisi buku daftar hadir yang telah
disiapkan mulai jam praktik sampai dengan selesainya
kegiatan praktik;
3. Dosen menjelaskan cara penggunaan alat-alat
praktikum kepada mahasiswa praktikan baik yang standar
maupun yang dipinjam sesuai dengan fungsinya;
4. Mahasiswa menggunakan alat sesuai dengan fungsi
dan petunjuk praktik dengan diamati oleh dosen
pembimbing (jobsheet).
Tujuan Standar Operasional Prosedur Saat
Bekerja di Laboratorium
c. Selesai praktikum
Setelah kegiatan praktikum dilaksanakan terdapat hal-hal
yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Sebelum meninggalkan ruangan praktik, mahasiswa
atau praktikan harus membersihkan alat dan bahan yang
digunakan dan kemudian mengembalikannya kepada
laboran atau teknisi;
2. Teknisi atau laboran memeriksa kelayakan alat yang
dipinjam, jika rusak/hilang maka teknisi/laboran mencatat
sebagai alat yang ditinggalkan dan harus diganti oleh
peminjam.
Tujuan Standar Operasional Prosedur Saat
Bekerja di Laboratorium
d. Peraturan-peraturan lain
1. Sebelum menggunakan alat-alat praktikum, mahasiswa harus memahami petunjuk penggunaan
alat itu, sesuai dengan petunjuk penggunaan yang diberikan
2. Mahasiswa harus memperhatikan dan mematuhi peringatan (warning) yang biasa tertera pada
badan alat
3. Mahasiswa harus memahami fungsi atau kegunaan alat-alat praktikum dan hanya menggunakan
alat-alat tersebut untuk aktivitas yang sesuai fungsi atau kegunaannya.
4. Mahasiswa harus memahami rating dan jangkauan kerja alat-alat praktikum serta menggunakan
alat-alat tersebut sesuai rating dan jangkauan kerjanya.
5. Seluruh peralatan praktikum yang digunakan harus dipastikan aman dari benda/logam tajam,
api/panas berlebih atau lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada alat tersebut;
6. Tidak melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan kotor, coretan, goresan atau sejenisnya pada
badan alat-alat praktikum yang digunakan, karena hal tersebut bisa saja merusak fungsi alat
tersebut.
Panduan Umum Keselamatan Penggunaan
Peralatan Laboratorium
Panduan umum pada Standar Operasional Prosedur diantaranya
meliputi panduan untuk bahaya listrik, bahaya api atau panas
berlebih, bahaya benda tajam dan logam dan panduan umum lain.
a. Bahaya listrik
Beberapa praktikum dalam pelaksanaanya tidak terlepas dari
penggunaan listrik. Panduan umum keselamatan dari bahaya listrik di
peralatan yang ada laboratorium diantaranya adalah:
1. Memperhatikan dan mempelajari tempat-tempat sumber listrik
(stop-kontak dan circuit breaker) dan cara untuk menyalakan maupun
mematikannya.
2. Menghindari daerah atau benda yang berpotensi menimbulkan
bahaya listrik (sengatan listrik) secara tidak disengaja, misalnya kabel
listrik yang terkelupas;
3. Menghindari melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan
bahaya listrik pada diri sendiri atau orang lain;
4. Mengeringkan bagian tubuh yang basah terlebih dahulu karena
dapat menimbulkan sengatan listrik
5. Mewaspadai dan berhati-hati terhadap bahaya listrik pada setiap
aktivitas praktikum.
Panduan Umum Keselamatan Penggunaan
Peralatan Laboratorium
b. Bahaya api atau panas berlebih
1. Tidak membawa benda-benda yang mudah terbakar
seperti korek api dan gas ke dalam ruang praktikum bila
tidak disyaratkan dalam modul praktikum;
2. Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan
api, percikan api atau panas yang berlebihan;
3. Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan
bahaya api atau panas berlebih pada diri sendiri maupun
orang lain;
4. Selalu waspada terhadap bahaya api atau panas
berlebih pada setiap aktivitas praktikum;
Panduan Umum Keselamatan Penggunaan
Peralatan Laboratorium
c. Bahaya benda tajam dan logam
Bahaya benda tajam di laboratorium memang sangat
fatal. Benda-benda jenis ini dapat melukai anggota tubuh
praktikan saat melakukan praktikum. Berikut adalah
panduannya agar terhindar dari bahaya tersebut, antara lain :
1. Tidak membawa benda tajam (pisau, gunting dan
sejenisnya) ke ruang praktikum bila tidak diperlukan untuk
pelaksanaan percobaan;
2. Tidak memakai perhiasan yang terbuat dari logam
misalnya cincin, kalung, dan gelang dan lain-lain;
3. Menghindari daerah, benda atau logam yang memiliki
bagian tajam dan dapat melukai diri sendiri maupun orang
lain;
4. Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan luka
pada diri sendiri atau orang lain.
Panduan Umum Keselamatan Penggunaan
Peralatan Laboratorium
d. Panduan umum lain
1. Tidak membawa makanan dan minuman ke dalam
ruang praktikum maupun sekitar area ruang praktikum;
2. Tidak merokok atau melakukan hal-hal lain yang
dapat mengganggu berjalannya proses praktikum.
Standar Operasional Prosedur Peminjaman
Alat/Barang/Sarana dan Prasarana Laboratorium
Prosedur tersebut meliputi:
a. Pengajuan surat permohonan peminjaman
Surat permohonan pinjaman berisi nama peminjam,
jabatan peminjam, bagian peminjam, alamat peminjam
(alamat kampus dan ruang), keperluan pinjaman (acara,
waktu dan tempat), lama peminjaman, serta nama barang
yang akan dipinjam dan jumlahnya.
b. Pengesahan permohonan pinjaman
Penanggungjawab laboratorium akan memeriksa surat
permohonan pinjaman tersebut dan Penanggung jawab
laboratorium mempunyai hak kuasa penuh untuk
menerima atau menolak. Selama permohonan
peminjaman tersebut untuk keperluan kegiatan bukan
untuk kepentingan pribadi, maka permohonan
peminjaman tersebut akan diterima;
Standar Operasional Prosedur Peminjaman
Alat/Barang/Sarana dan Prasarana Laboratorium
c. Pengisian surat pinjaman
Tahapan ketiga dari prosedur ini adalah pengisian surat
pinjaman bagi yang surat permohonan pinjaman telah
diperiksa dan disetujui oleh penanggung jawab laboratorium
dan diketahui oleh Kepala laboratorium.
d. Penyerahan pinjaman dan pengecekan awal
Setelah pemohon mengisi surat bukti peminjaman, langkah
yang harus dilakukan selanjutnya adalah menerima
alat/barang/sarana dan prasarana yang dipinjam tersebut dan
melakukan pengecekan awal terhadap semua barang yang
dipinjam
e. Pengembalian pinjaman dan pengecekan akhir
Setelah alat atau barang tersebut selesai digunakan, maka
alat harus dikembalikan lagi kepada penangging jawab
laboratorium.
Standar Operasional Prosedur Peminjaman
Alat/Barang/Sarana dan Prasarana Laboratorium
c. Pengisian surat pinjaman
Tahapan ketiga dari prosedur ini adalah pengisian surat
pinjaman bagi yang surat permohonan pinjaman telah
diperiksa dan disetujui oleh penanggung jawab
laboratorium dan diketahui oleh Kepala laboratorium.
d. Penyerahan pinjaman dan pengecekan awal
Setelah pemohon mengisi surat bukti peminjaman,
langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah
menerima alat/barang/sarana dan prasarana yang
dipinjam tersebut dan melakukan pengecekan awal
terhadap semua barang yang dipinjam
e. Pengembalian pinjaman dan pengecekan akhir
Setelah alat atau barang tersebut selesai digunakan, maka
alat harus dikembalikan lagi kepada penangging jawab
laboratorium.
Standar Operasional Prosedur Peminjaman
Alat/Barang/Sarana dan Prasarana Laboratorium
f. Pengisian surat pengembalian
Tahapan pengisian surat pengembalian di laboratorium
adalah sebagai berikut:
1. Pemohon mengisi tanggal pengembalian
alat/barang/sarana dan prasarana pinjaman tersebut;
2. Setelah pemohon mengisi tanggal pengembalian, maka
proses peminjaman ini dinyatakan selesai.
g. Ketentuan peminjaman bagi pihak luar
Selain ketentuan-ketentuan tersebut, ada ketentuan
tambahan yang harus dipenuhi oleh peminjam dari pihak luar
yaitu:
1. Peminjam harus menitipkan kartu tanda pengenal atau
sejenisnya;
2. Peminjam dikenakan biaya sewa, yang harganya sesuai
dengan jenis barang yang dipinjam. Harga sewa ditentukan
sesuai dengan kesepakatan pengelola laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Decaprio, R. 2013. Tips Mengelola Laboratorium Sekolah. Yogyakarta: Diva Press
Halide. 2008. Standar Operating Procedures (SOP) Laboratorium. Makassar:Universitas Fajar.
Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Narawati, A. P. 2014. Pengelolaan Laboratorium Biologi di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP
UMS. Skripsi. Surakarta : FKIP Biologi UMS.
TERIMA KASIH