You are on page 1of 13

Giro Pada Bank Indonesia

Definisi
• Giro pada Bank Indonesia adalah saldo
rekening giro bank baik dalam rupiah maupun
dalam valuta asing di bank Indonesia.
Dasar Pengaturan
• Transaksi giro pada BI dicatat sebesar nilai nominal.

• Transaksi giro pada BI dalam valuta asing dicatat berdasarkan valuta


asingnya dan diekuivalenkan dalam rupiah dengan kurs laporan Bank
Indonesia (booking rate) pada saat terjadinya transaksi (pembukuan
sistem multicurrency).

• Saldo rekening giro pada BI dalam dalam valuta asing dicatat dalam valuta
asingnya dan dijabarkan/diekuivalenkan ke dalam rupiah dengan
menggunakan kurs laporan Bank Indonesia pada tanggal laporan.

• Saldo rekening giro pada BI tidak boleh dikurangi dengan kredit likuiditas
yang diterima bank dari BISaldo giro pada BI dipergunakan untuk
menyelesaikan utang-piutang (menang-kalah kliring) dengan bank lain,
tambahan kas dsb.
1.Kegiatan bank yang berkaitan
dengan pengelolaan giro pada BI
• 1. Pengambilan dan penyetoran kas fisik, Apabila bank kekurangan
kas fisik, maka bank yang bersangkutan dapat mengambil uang kas
ke BI. Untuk pengambilan ini bank tersebut akan menerbitkan cek
dan mencairkannya ke BI.

• 2. Penyelesaian kewajiban kepada pihak lain, Kegiatan bank dalam


rangka penyelesaian kewajiban kepada pihak lain terjadi apabila bak
yang bersangkutan menerima tagihan dari bank lain melalui kliring
atau penarikan kredit likuiditas oleh BI.

• 3. Penerimaan tagihan dari pihak lain. Penerimaan hasil tagihan


dari pihak lain terjadi apabila yang bersangkutan menerima dana
dari pihak lain dari hasil menang kliring atau adanya kucuran dana
kredit likuiditas dari BI.
2.Penyelesaian Utang-Piutang dengan
Bank Lain/ Bank Indonesia
• Penyelesaian Utang-Piutang dengan Bank Lain
atau Bank Indonesia dilakukan melalui sarana
kliring.
• Kliring adalah suatu cara lalu lintas pembayaran
giral antarbank dengan menggunakan warkat
kliring yang dilakukan dengan cara saling
memperhitungkan, baik atas beban maupun
untuk kepentingan nasabah masing-masing bank
peserta kliring yang dilakukan melalui lembaga
kliring (clearing house).
• Kliring dibedakan menjadi dua:

1. Kliring Keluar. Merupakan kegiatan


penerimaan warkat-warkat kliring dari nasabah
untuk ditagihkan/ diserahkan ke bank lain melalui
lembaga kliring.

2. Kliring Masuk. Merupakan kegiatan


penerimaan warkat-warkat kliring yang diterima
dari bank lain atas beban rekening nasabah yang
ditatausahakan di bank yang bersangkutan.
• Lembaga kliring adalah tempat dimana bank anggota kliring saling
bertemu untuk menukarkan warkat-warkat kliring. Bank-bank
peserta kliring umumnya kantor cabang bank dalam satu kota,
ditambah dengan daerah sekitar kota tersebut.

• Mekanisme kerja di lembaga kliring yaitu:


1. Kliring penyerahan warkat-warkat kliring untuk diperhitungkan
kepada Bank Peserta kliring lainnya (disebut juga kliring pertama).
2. Kliring pengembalian warkat-warkat kliring yang ditolak (disebut
juga kliring kedua).

• Lembaga kliring pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan


efisiensi dalam pelaksanaan tukar-menukar warkat kliring, serta
mengontrol pelaksanaan kliring.
Mekanisme kerja kliring dari penerimaan warkat-warkat di masing-
masing bank sampai dengan diperoleh hasil kliring :

1. Kliring Keluar
• Teller Kliring Bank. Menerima setoran dari nasabah dalam bentuk
warkat/ tagihan ke bank lain (setoran nontunai), selanjutnya
dikliringkan.
• Petugas Kliring Bank. Mencatat warkat-warkat kliring tersebut pada
daftar kliring menurut bank dan menjumlahkan angkanya.
• Pejabat bank. Memeriksa hasil kerja petugas kliring.
• Lembaga Kliring. Menghitung daftar kliring dan rekapitulasi daftar
kliring. Hasil kliring pasti akan diketahui setelah dilakukan kliring
kedua.
2. Kliring Masuk
• Petugas Kliring Bank. Membawa pulang daftar kliring yang diterima dari
bank-bank lawan beserta warkat-warkat yang akan ditagihkan atau
dikreditkan ke masing-masing nasabah yang ditatausahakan di bank yang
bersangkutan.
• Teller Kliring Bank. Memeriksa keaslian warkat dan kebenaran penulisan
dan tanda tangan, selanjutnya memeriksa saldo masing-masing rekening
nasabah yang menerbitkan warkat tersebut.
• Petugas Kliring Bank. Menerima warkat-warkat yang ditolak dan membuat
daftar kliring warkat yang ditolak serta membuat rekapitulasi daftar kliring
tolakan.
• Pejabat Bank. Memeriksa dan memberikan persetujuan.
• Lembaga Kliring. Melakukan perhitungan dan menggabungkan dengan
perhitungan kliring sebelumnya (Kliring Pertama). Hasil gabungan
perhitungan tersebut akan menghasilkan menang dan kalah kliring
masing-masing bank..
3. Kliring RTGS Keluar
Kliring real time gross settlement adalah
pelimpahan dana ke bank lain atau ke BI dalam
jumlah tertentu yang ditetapkan oleh BI.

4. Kliring RTGS Masuk


Berarti bahwa bank yang bersangkutan
menerima melimpahkan dana atau tagihan dari
BI atau bank lain. Prosedurnya dimulai dari kantor
pusat, intruksi tidak dapat dikoreksi atau
dibatalkan secara manual oleh pihak manapun.
3. Tambahan/ Setoran Kas kantor
Cabang
• Apabila suatu kantor bank atau unit kerja bank
kekurangan kas fisik untuk operasional, maka
disamping dapat dipenuhi dai kantor cabang/
unit kerja lain, juga dapat mengambil ke BI atas
bank lain. Transaksi tambahan kas fisik dari BI
atau bank lain tersebut oleh kantor cabang/ unit
kerja akan dibukukan oleh pemimpin unit kerja/
supervisior kas diunit kerja dengan menggunakan
menu “TAMBAHAN KAS KANTOR CABANG/ KAS
INDUK” dan memasukkan jumlah kas sesuai
rinciannya.
Perlakuan Akuntansi
• Pengakuan dan Pengukuran Penyajian
Transaksi kas diakui sebesar nominal.

• Penyajian
Kas merupakan pos neraca yang paling likuid
(lancar), dan lazim disajikan pada urutan
pertama pada aktiva.
Ilustrasi Jurnal
• 1. Kas Rupiah
a) Penerimaan Setoran:
Kas Rupiah Rp. Xxx
Rekening yang dituju Rp. Xxx
b) Penarikan
Rekening yang ditarik Rp. Xxx
Kas Rupiah Rp. Xxx

• 2. Kas Mata Uang asing


Kas Mata Uang asing(dilampirkan di PAPI Bab II.B tentang
“Metode Pencatatan TransaksiMata Uang Asing”)