You are on page 1of 22

Salah satu karakter khusus kontrak

pengadaan barang/jasa pemerintah,


sebagaimana telah dijelaskan diatas adalah
keterkaitannya dengan aspek pengelolaan
keuangan negara.
Besarnya jumlah dana anggaran
pendapatan dan belanja negara yang terserap
untuk pengadaan barang/jasa sangat
berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian
negara sehingga dibutuhkan penatakelolaan
yang baik.
Anggaran pengadaan barang/jasa yang
begitu besar tersebut ternyata menjadi lahan
subur bagi tindakan korupsi yang berakibat
terjadinya kerugian negara.
Modus korupsi dalam pengadaan barang/jasa
disekitar publik sebagaimana diungkapkan oleh
Centre of International Crime Prevention (CIPC)
dari UN Office for Drug Control and Crime
Prevention (UNODCCP), antara lain :
• Pemalsuan (Kecurangan)
• Penyuapan (bribery)
• Penggelapan (embez-zlement)
• Pemberian komisi (commission)
• Nepotisme (nepotism)
• Sumbanan illegal (illegal contibution)
Demikian pula korupsi pada level
perencanaan pengadaan barang/jasa terjadi
melalui modus mark-up dan mark-down.
Data Kasus
Kasus pengadaan barang/jasa yang merugikan
negara/daerah/perusahaan dari hasil pemeriksaan
semester II Tahun 2010 berjumlah 1513 kasus dengan
total kerugian sebesar Rp.659.251.010.000,00. Temuan
BPK sejumlah 1513 kasus dalam pengadaan barang/jasa
antara lain :
1. 146 kasus merugikan keuangan negara
2. 1319 kasus merugikan keuangan daerah
3. 6 kasus merugikan keuangan perusahaan BUMN
4. 42 kasus merugikan keuangan perusahaan BUMD.
Faktor yang berpotensi meningkatkan
resiko korupsi dalam pengadaan
barang/jasa :

a. Belanja Mendesak di Akhir Tahun Anggaran


Belanja yang mendesak pada akhir tahun
anggaran kerap menjadi subjek terjadinya praktik
korupsi. Sebab, biasanya transaksi pada periode ini
kurang diawasi secara ketat.
b. Masa Tanggap Darurat Saat Bencana Alam
atau Bencana Lainnya
Pengadaan barang/jasa saat terjadi bencana
beresiko terjadi korupsi. Hal ini terjadi karena
adanya jumlah dana yang besar dan harus
dibelanjakan secara cepat untuk menanggulangi
permasalahan kemanusiaan. Berdasarkan pada
resiko ini diharapkan organisasi kemanusiaan
memiliki kesadaran untuk melakukan upaya
pencegahan korupsi melalui penguatan sistem
distribusi bantuan denga merekrut staf yang
profesional.
c. Kurangnya akses informasi
Meski pemerintah secara proaktif telah
mengeluarkan kebijakan mengenai kebebasan
atas informasi, namun penerapan yang lemah
telah menyebabkan peluang untuk
memenipulasi informasi tetap terjadi
d. Standarisasi dokumen tender
Bila tidak ada standarisasi dokumen
tender akan menimbulkan adanya upaya
manipulasi yang menyebabkan kerancuan
dalam pengambilan keputusan.
e. Penetapan Peserta Tender
Pada umumnya kecenderungan untuk
menentukan peserta tender tertentu akan
beresiko mengurangi tingkat fairness dalam proses
pengadaan barang/jasa dan biasanya diikuti denga
peningkatan biaya pembelian.
f. Keikutsertaan Perusahaan Milik Pejabat Publik
Jika perusahaan peserta tender dimiliki atau
sebagaian sahamnya oleh pejabat publik, maka
sistem transparasi dan akuntabilitas tidak dapat
dipastikan berjalan dengan baik. Oleh sebab itu,
perlu ditambahkan persyaratan khusus bahwa
seluruh peserta tender mendapatkan perlakuan
yang sama.
g. Keikutsertaan Perusahaan “Boneka”
Perusahaan-perusahaan boneka biasanya
berbadan hukum resmi, namun tidak beroperasi
secar aktif dan hanya dibuat untuk membantu
menyembunyikan identitas pemiliknya.
Selain itu, biasanya perusahaan semacam ini
hanya dijadikan sebagai kedok oleh pejabat publik
atau anggota keluarganya, subkontraktor untuk
membuat perjanjian yang kolutif antar sesama
peserta tender. Beberapa kecurangan dalam
pengadaan barang/jasa dalam bahasa inggris
disebutkan fraud.
KUHP menyebutkan beberapa pasal yang mencakup
pengertian kecurangan seperti :
o Pasal 362 KUHP tentang pencurian
o Pasal 368 KUHP tentang pemerasan dan pengancaman
o Pasal 372 KUHP tentang penggelapan
o Pasal 378 KUHP tentang perbuatan curang
o Pasal 396 KUHP tentang merugikan pemberi piutang
dalam keadaan pailit
o Pasal 406 KUHP tentang menghancurkan atau
merusakkan barang
o Pasal 209, 210, 387, 388, 415, 417, 418, 419, 420, 423,
425 dan 435 secara khusus diatur dalam UU
pemberantasan tindak pidana korupsi (UU No. 32
Tahun 1999)
The Association of Certified fraud Examiners
(ACFE) atau Asosiasi Pemeriksa Kecurangan
Bersertifikat, mengklasifikasikan Fraud
(kecurangan) dalam beberapa klasifikasi, dan
dikenal dengan istilah “Fraud Tree” yaitu Uniform
Occupational Kecurangan Classification System,
yang membagi kecurangan dalam 3 jenis
berdasarkan perbuatan yaitu :
1. Penyimpangan atas aset (Asset
Misappropriation)
2. Pernyataan palsu atau salah pernyataan
(Fraudulent Statement)
3. Korupsi (Corruption).
Faktor yang mempengaruhi terjadinya kecurangan
dalam pengadaan barang/jasa pemerintah :

1. Kualitas Panitia pengadaan


Panitia pengadaan merupaka salah satu subjek atau
pelaku pengadaan barang/jasa pemerintah dan aktivitas serta
keputusan yang dilakukannya akan sangat menentukan
jalannya proses pengadaan.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan faktor
kualitas panitia pengadaan dengan melihat beberapa dimensi,
yaitu :
a. Integritas
b. Kompetensi
c. Obyektivitas dan independensi
a. Integritas
Integritas merupakan hal pertama dan
mendasar yang perlu ditekankan dalam setiap
subjek (pelaku) suatu sistem, termasuk sistem
pengadaan barang/jasa pemerintah. Tanpa
adanya integritas yang terpatri pada setiap
individu atau subjek terkait, maka sebuah
sistem tidak akan dapat berjalan sesuai dengan
visi dan misi suatu organisasi atau lembaga.
b. Kompetensi
Mengingat strategisnya posisi panitia
pengadaan maka diperlukan kompetensi
minimal untuk dapat menjabat sebagai panitia
pengadaan. Tuntutan kompetensi minimal
antara lain pemahaman mengenai sistem dan
prosedur pengadaan serta pemahaman yang
cukup memadai mengenai barang/jasa yang aka
diadakan (dibeli).
c. Obyektivitas dan independensi
Proses pengadaan barang/jasa pemerintah
merupakan proses yang penuh dengan berbagai
muatan kepentingan masing-masing subyek
pengadaan barang/jasa. Untuk itu seluruh proses
pengadaan barang/jasa haruslah berjalan secara
objektif dan independen.
Untuk mewujudkan hal ini, panitia pengadaan
sebagai personil yang menyelenggarakan proses ini
harus mengedepankan prinsip objektivitas dan
ketidakberpihakkan kepada kepentingan salah satu
atau sekelompok peserta proses pengadaan
barang/jasa.
2. Kualitas Penyedia Barang/Jasa
Kualitas barang/jasa juga merupakan salah
satu elemen penting dalam suatu sistem
pengadaan barang/jasa. Jika suatu pengadaan
barang/jasa tidak diikuti dengan kualitas
penyedia yang baik, maka akan terdapat banyak
kesalahpahaman atau misunderstanding
diantara panitia dan penyedia barang/jasa yang
nantinya akan menimbulkan kerugian kedua
belah pihak.
3. Penghasilan Panitia Pengadaan
Dalam melakukan tindak kejahatan
(kriminologi) apalagi yang bersinggungan dengan
hukum, seseorang pasti mempunyai suatu alasan
yang kuat yang benar-benar mempengaruhi
keadaan psikologi dirinya.
Kemudian dapat memicu atau memperkuat
motif dalam melaksanakan tindak kejahatan
melawan hukum tersebut, yang salah satunya
disebabkan oleh tidak berbanding lurus antara
besarnya tanggung jawab yang dipikul dengan hak
yang akan diterima. Oleh sebab itu, antara
tanggung jawab dengan hak harus proposional.
1. Kasus pengadaan UPS di DKI, SMA tidak membutukan tetapi
pemerintah menganggarkan, bagaimana menurut kelompok anda?
(geraldi)
2. Apa upaya menanggulangi tindak kecurangan, dilihat dari
faktornya? (eko)
3. Apa yang menyebabkan di daerah lebih banyak terjadi kasus/
permasalahan dalam pengadaan barang/ jasa pemerintah? (deby)
4. Menurut kelompok anda dari cara pengadaan yang elektronik dan
manual manakah yg lebih meminimalisir tindak kecurangan?
(setiawan)
5. Kualitas barang/ jasa seperti apa dan bagaimana cara yang dapat
mengantisipasi terjadinya kecurangan dalam pengadaan barang/
jasa? (udin)