Вы находитесь на странице: 1из 59

CASE REPORT SESSION

Oleh:
Guntur Cokro Nugroho (12100115099)

Preseptor:
Nina Surtiretna, dr., Sp.A., MKes
Identitas Pasien

• Nama : An. MRA


• Jenis kelamin : Laki-laki
• TTL : Bandung, 16 Juli 2011
• Umur : 5 tahun 2 bulan
• Alamat : Jl. Cengkuang, Bandung
• Tgl masuk : 27 Agustus 2016
• Tgl pemeriksaan : 29 Agustus 2016
• Jam masuk : 22.00 WIB
Identitas Orang Tua Pasien

• Nama Ayah : Tn. A


• Umur : 38 tahun
• Pendidikan : SMA
• Pekerjaan : Wiraswasta

• Nama ibu : Ny. T


• Umur : 36 tahun
• Pendidikan : SMA
• Pekerjaan : IRT
Anamnesis 1
• Keluhan utama : Muntah
• Anamnesis khusus (alloanamnesis) :
Pasien datang dengan keluhan muntah muntah yang terjadi
sejak 10 hari SMRS. Muntah terjadi secara tiba-tiba sebanyak
lebih dari 10 kali dan muntah terutama terjadi setelah makan,
jumlah muntahan tidak tahu dan berwarna bening. Keluhan
muntah terjadi secara menyemprot tanpa didahului oleh mual.
2
Orang tua pasien mengatakan keluhan disertai nyeri kepala
sejak 3 bulan SMRS, terjadi secara terus menerus terutama
ketika pasien ingin menggerakan kepalanya, tidak ada
penurunan kesadaran yang lama, menjadi sering mengantuk,
lebih banyak tidur dan terlihat lemas karena pasien tidak mau
makan dan minum. Pasien menjadi lebih rewel sejak 3 hari
SMRS.
Keluhan juga disertai demam sejak 10 hari SMRS, hilang timbul,
meningkat terutama pada malam hari. Suhu paling tinggi diukur
dengan termometer sekitar 37,9 derajat Celcius dan suhu
terendah 37,6 derajat Celcius. Keluhan juga disertai adanya
batuk berdahak sejak 2 hari SMRS, hilang timbul dan berwarna
kuning. Keluhan demam tanpa disertai nyeri pada telinga, keluar
cairan dari telinga. Keluhan demam juga tanpa disertai adanya
pilek, dan sesak napas. Orang tua pasien mengatakan terjadi
penurunan berat badan sekitar 10 kg sejak 3 bulan SMRS.
2

• Pasien mengatakan bahwa tidak ada riwayat batuk lebih dari 3


minggu. Pasien menyangkal adanya demam lebih dari 2 minggu.
Pasien menyangkal pernah kontak dengan pasien TB, tidak ada
penghuni rumah yang sedang pengobatan selama 6 bulan.
Disekitar rumahpun tidak ada orang dewasa yang mengalami
batuk lama lebih dari 3 minggu.
• Nyeri kepala sejak 3 bulan SMRS, pasien panas sejak 10 hari SMRS,
penurunan berat badan selama 3 bulan, muntah proyektil,
subfebris, sekarang ada batuk 2 hari SMRS.
3

Pasien juga menyangkal pernah terbentur dibagian kepala.


Pasien menyangkal adanya pusing berputar. Pasien menyangkal
adanya nyeri dibagian perut. Pasien menyangkal adanya
penurunan kesadaran disertai adanya gemetaran pada pasien.
Pasien menyangkal adanya BAB yang mencret ≥3 kali dalam
sehari. Pasien menyangkal adanya muntah bercampur darah,
BAB berdarah. Pasien menyangkal warna kulit berubah menjadi
lebih kuning, pipis berwarna seperti teh dan feses berwarna
seperti dempul. Pasien menyangkal kepala pasien lebih besar
dibandingkan dengan kepala pada anak seusianya. Pasien
menyangkal adanya kelemahan di anggota gerak badan.
4
Pasien tinggal dilingkungan yang padat penduduk dengan
ventilasi kurang baik dan cahaya matahari hanya masuk dipagi
hari. Pasien sebelumnya dibawa ke klinik dokter umum karena
keluhan nyeri kepala, muntah dan demam, kemudian
mendapatkan obat penurun panas, dan anti muntah, namun
tidak ada perbaikan, sehingga orang tua pasien membawa ke
IGD di RSMB dan dianjurkan untuk dirawat. Saat ini Pasien
dalam perawatan hari ke 4 di RSMB. Sudah diberi cairan lewat
jalur infus, diberi obat penurun panas badan (paracetamol), anti
muntah, antibiotik, dan OAT. Setelah minum obat penurun
panas badan, keluhan panas badan tidak dikeluhkan kembali,
muntah tidak dikeluhkan kembali, nafsu makan sudah baik,
tetapi masih mengeluhkan nyeri kepala.
• Riwayat Penyakit Terdahulu
Pasien pernah mengalami gejala types sejak 4
bulan yang lalu bulan dan dirawat sebanyak 2x selama
5 hari.

• Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan
yang sama seperti pasien saat ini.
Riwayat Pribadi
• Riwayat kehamilan dan persalinan
Saat hamil ibu pasien selalu kontrol ke bidan dan
mengkonsumsi vitamin yang diberikan oleh bidan. Ibu
pasien mengatakan tidak pernah sakit selama
kehamilan. Tidak pernah mengkonsumsi obat lain
selain dari bidan.
Pasien merupakan anak pertama yang lahir dari
ibu P2A0 yang merasa hamil 38 minggu dengan letak
kepala ditolong oleh bidan. Bayi lahir dengan berat
lahir 3300 gram dan panjang badan 48 cm. Bayi
langsung menangis saat dilahirkan, tidak ada kuning
maupun kebiruan. Tidak ada penyulit ketika proses
persalinan.
• Riwayat Nutrisi
• 0 - 6 bulan : ASI ekslusif
• 6 - 12 bulan : ASI + bubur susu + susu formula
• 1 - 24 bulan : ASI + bubur nasi + susu formula
• 2 tahun - saat ini : Menu keluarga

• Perkembangan dan kepandaian


Orang tua sudah lupa kapan anaknya mencapai tahapan-
tahapan perkembanganya, tetapi menurut ibunya
perkembangan pasien sesuai usia dan sama dengan teman
sebayanya.
Saat ini pasien duduk di taman kanak-kanak. Ibu pasien
tidak mengetahui apakah ada kesulitan dalam belajar di
sekolah, karena baru beberapa hari sekolah sudah sakit. Pasien
juga merupakan anak yang aktif bermain dengan teman
sebayanya dirumah sebelum sakit.
• Riwayat imunisasi
Pasien di imunisasi lengkap di bidan dan hingga
usia 9 bulan.
BCG : 1 bulan
Hepatitis B : 7hari/2/3/4bln
Polio : 1/2/3/4 bulan
DPT : 2/3/4 bulan
Campak : 9 bulan

• Sosial, ekonomi dan lingkungan


Pasien lahir di keluarga dengan ekonomi
menengah ke bawah. Hingga saat ini penghasilan
cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari
dan kebutuhan sekolah kakak pasien.
• 3 bulan SMRS :Nyeri kepala

• 17/8/2016 : Muntah >10x/hari dan demam

• Sabtu 18/8/2016 : Berobat ke dokter umum

• Sabtu 18/8/2016 : Demam (-), masih tetap muntah >10x/hari


timbul batuk (+)

• Sabtu 25/8/2016, Jam 22.00 :Dibawa ke IGD RSMB dan


disarankan untuk dirawat
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan umum : Tampak sakit sedang
• Kesadaran : Kompos mentis PCS 15 (E4 M5 V6)
• Tanda vital
• Tekanan darah : 90/60 mmHg
• Nadi : 90 x/menit
• Respirasi : 22 x/menit
• Suhu : 36,60 C
• Antropometri
• BB : 15 kg
• TB : 113 cm
• Status gizi
• BB/U : diantara (-1) – (-2) SD
• TB/U : diantara 0 – 1 SD
• BMI/U : digaris -3
• Kesimpulan : KEP sedang
• Kulit : makulopapular eritem (-), vesikel (-), ptekie (-) at
• Kepala
• Bentuk : normocephal
• Wajah : simetris, deformitas (-)
• Rambut : hitam halus, tidak mudah rontok
• Mata : konjungtiva anemis -/-, skelra ikterik -/-, pupil bulat
isokor, refleks cahaya +/+,
• Telinga : bentuk normal, simetris, sekret (-), membran
timpani intak.
• Hidung : bentuk normal, sekret (-), pch (-),
• Mulut
• Bibir : tampak kemerahan dan kering
• Gigi : tidak ada caries dentis
• Gusi : tampak kemerahan, perdarahan (-)
• Lidah : tidak kering, bercak putih ditengah lidah (-)
• Faring : hiperemis (-)
• Tonsil : T1/T1 tidak hiperemis
• Leher
KGB : tidak terdapat pembesaran
Tiroid : tidak teraba

• Thoraks
• Inspeksi : pergerakan simetris, retraksi intercostal (-)
• Palpasi : focal fremitus hantaran sama ka=ki
• Auskultasi :
• Cor : S1 S2 murni regular, murmur (-), gallop (-)
• Pulmo : VBS ka=ki, wheezing (-/-), rhonki (+/+)
• Perkusi : sonor, tidak ada pembesaran jantung
• Abdomen
• Inspeksi : Datar
• Auskultasi : Bising usus (+)
• Palpasi : lembut, nyeri tekan epigastrium (-)
• Hepar : 3 cm dibawah arcus costae
• Spleen : tidak ada pembesaran
• Perkusi : timpanik, PS/PP : -/-
• Genital : tidak dilakukan
• Ekstremitas :
Deformitas (-)
Sianosis perifer (-)
Akral hangat
CRT < 2 detik
Clonus : (+)
Tonus : normotonus
ROM : kesan motorik 5 5
55
Rangsang Meningeal
• Kaku kuduk : (+)
• Brudzinski I : kanan & kiri (+)
• Brudzinski II : kanan & kiri (+)
• Brudzinski III : kanan & kiri (+)
• Laseque : terbatas
• Kernig : terbatas

Pemeriksaan Saraf Otak : tidak dapat dilakukan


Refleks
Fisiologis Patologis
Kanan Kiri Babinski + +
Biceps + +
Chaddock + +
Triceps + +
Oppenheim - -
Radiobrachialis + +
Gordon - -
Patella +↑ +
Achiless +↑ + Schaefer - -
• Resume
Pasien laki-laki berusia 5 tahun 2 bulan dengan status gizi
KEP sedang, datang dengan keluhan demam dengan muntah
proyektil sejak 10 hari SMRS. Keluhan disertai headache seperti
ditusuk-tusuk, subfebris dengan tipe intermiten, batuk sejak 2
hari yang lalu, malaise dan irritable. Keluhan disertai penurunan
berat badan 10 kg sejak 3 bulan SMRS. Keluhan tidak disertai
kejang, penurunan kesadaran yang lama. Pasien baru
mendapatkan OAT selama 1 hari perawatan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak
sakit sedang, dengan kesadaran kompos mentis (PCS 15).
Ditemukan dari tanda-tanda vital afebris dengan tanda vital
lainya dalam batas normal. Pada pemeriksaan thorax, ronkhi
(+/+), abdomen ditemukan tanda hepatomegali, pemeriksaan
reflex fisiologis, reflex KPR dan achiless terdapat hypereflex di
ekstremitas bawah bagian kanan. Ditemukan tanda meningeal,
reflex patologis, dan hyperefleks. Pemeriksaan saraf kranial
tidak dapat dilakukan. Pemeriksaan fisik lainnya dalam batas
normal.
Diagnosis Banding

• Meningitis TB Stadium I + Bronkopneumonia ec


Streptococcus Pneumonia + KEP Sedang
• Meningitis bakterialis ec Streptococcus Pneumonia
+ Bronkopneumonia ec Streptococcus Pneumonia +
KEP Sedang
• Meningitis bakterialis ec Haemophilus Influenza
type B + Bronkopneumonia ec Haemophilus
Influenza type B + KEP Sedang
Usulan Pemeriksaan

• Hematologi rutin (hb, ht, trombosit, leukosit)


• Hitung jenis leukosit
• Kultur darah
• SGOT/SGPT
• Lumbal pungsi
• Tes Mantoux
• Foto Thorax
Diagnosis Kerja

• Meningitis TB Stadium I + Bronkopneumonia ec


Streptococcus Pneumonia + KEP Sedang
HASIL LABORATORIUM
27 Agustus 2016 28 Agustus 2016

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan

HEMATOLOGI Analisis Cairan

Hb 11,6 10,5-12,9 Gr/dl Otak

Ht 35 Pria 32-39 % Glukosa 66 mg/dl


Protein 83,86 mg/dl
Leukosit 14.800 4000-10000 Sel/mm³
Jumlah Sel 10 Sel/mm³
150.000-
Trombosit 693.000 Sel/mm³
400.000 Hitung Jenis Sel

MN 10 %
28 Agustus 2016

PMN 90 %
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

AST/SGOT 21 37 Nonne Positif Negatif

SGPT 9 41
Pandy Positif Negatif
Foto Rontgen

Cor dan Diafragma Normal, sinus-sinus terbuka


Pulmo : Hilus kanan dengan noda-noda, parakardial kanan garis-
garis dan noda-noda granuler
Kesan : DD: - Pernah KP
- Gambaran bronkitis
Follow Up
TANGGAL S O A P
Demam sejak 10
hari SMRS, pusing
Ku: sakit sedang, CM
terus menerus
TD : 100/70 mmgHg Ka-en IB 10 gtt/mikro
sejak 3 bulan yang Bacterial
N : 90 PCT syr 3x1,5 cc
27/8/2016 lalu, mual (+), infection +
RR: 24x/menit Cefotaxime 3x750 mg/IV
muntah (+) vomitus
S: 36,4 C Ondansentron 2x1,5 mg/IV
>10x/hari, rewel,
Kaku kuduk (+)
masih terlihat
lemas
Cefotaxime stop
Demam (+),
Ku: sakit sedang, CM Ceftriakson 1x1,5 mg/IV
muntah (-), nyeri
TD : 90/60 mmgHg Suspek FDC RHZ 1xIII
kepala (+), rewel,
N : 90 Meningitis Etambutol 1x250mg
28/8/2016 nafsu makan
RR: 22x/menit Mixed Deksametason 4x2,5 mg/IV
sudah bagus,
S: 36,6 C Type Rencana LP
masih terlihat
Kaku kuduk (+) Foto rontgen thorax
lemas
Cek SGOT/SGPT
Demam (-), muntah (-
), nyeri kepala (+),
29/8/2016
rewel, nafsu makan Ku: sakit sedang, CM
Th/ lanjutkan
sudah bagus, masih TD : 90/60 mmgHg
Meningitis
terlihat lemas N : 88
mixed type
RR: 22x/menit
S: 36,6 C
Kaku kuduk (+)

Demam (-), muntah (-


), nyeri kepala (+),
rewel, nafsu makan Ku: sakit sedang, CM
Th/ lanjutkan
sudah bagus, masih TD : 90/60 mmgHg
Meningitis
terlihat lemas N : 84
30/8/2016 mixed type
RR: 22x/menit
S: 36,6 C
Kaku kuduk (+)
Demam (-), muntah
(-), nyeri kepala (+),
Ku: sakit sedang,
rewel, nafsu makan
CM Th/ lanjutkan
sudah bagus, masih
TD : 90/60 mmgHg Meningitis mixed
terlihat lemas
31/8/2016 N : 88 type
RR: 22x/menit
S: 36,6 C
Kaku kuduk (+)
Penatalaksanaan
Umum
• Edukasi : Kemungkinan penyebab penyakitnya &
pemeriksaan yang harus dilakukan untuk menegakan
diagnosis
• Rawat inap dan tirah baring
• Nutrisi :
• EER = 1369 Kkal Energi = 1825 Kkal/hari
• Protein = 14.25 Kkal  19 gr/hari
• Sediaan makanan berprotein tinggi
Khusus :
• Terapi cairan : kecepatan pemberian 5mL/kgBB/jam
RL 5cc / kg/ jam = 75 ml/Jam  25 gtt/menit (makro drip)
• Pemberian O2 2 Liter/menit via nasal canul
• Ampisilin : 50 mg/kgBB/hari dosis IV = 750 mg/hari dosis IV
• Obat Antituberkolosis 2HRZ + 4 HR
Isoniazid 5-15 mg/kgBB/hari = 75 mg – 225 mg/hari
Rifampisin 10-20 mg/kgBB/hari = 150 mg – 300 mg/hari
Pirazinamid 30-40 mg/kgBB/hari = 450 mg – 600 mg/hari
Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari = 225 mg – 300 mg/hari

• Pro konsul dr. Spesialis gizi.


• Penyuluhan :
Berikan penjelasan kepada keluarga pasien mengenai :
 Penyakit, penyebab, dan komplikasi
 Tujuan pemeriksaan yang akan dilakukan
 Mengenai terapi
 Berikan nutrisi gizi yang diberikan dan seimbang
 Berat badan dipantau setiap hari
 Diberi vitamin dan penyuluhan gizi.
Prognosis

• Quo ad vitam : ad bonam


• Quo ad functionam : dubia ad bonam
• Quo ad sanationam : dubia ad bonam
MENINGITIS TUBERKULOSIS (TB)

• Merupakan radang selaput otak yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis.
MANIFESTASI KLINIS
1. Stadium Awal (Stadium 1)
Didominasi oleh gejala gastrointestinal, tidak terlihat manifestasi
neurologis, berlangsung ± 2 minggu. Pada anak dapat apatis atau irritable
dengan sakit kepala yang hilang muncul, kenaikan suhu yang ringan,
anoreksi, mual dan muntah. Khususnya pada bayi, kejang demam
merupakan gejala yang paling menonjol pada stadium ini.
2. Stadium II
Anak terlihat mengantuk dan mengalami disorientasi dengan tanda
iritasi meningen. Refleks fisiologis meningkat, reflex abdominal
menghilang dan klonus. Djumpai keterlibatan saraf kranial III, VI dan VII.
3. Stadium III
Anak dapat dalam keadaan koma atau terdapat periode yang hilang
muncul dari penurunan kesadaran. Refleks cahaya pupil. Dapat ditemukan
spasme klonik rekuren dari ekstremitas dan pernapasan ireguler dan
demam tinggi. Hidrosefalus terjadi pada 2/3 penderita yang infeksinya
sudah berjalan >3 bulan dan tidak diterapi secara adekuat.
• “Pada pasien ini termasuk stadium awal (stadium I), dilihat dari
gejala yang didominasi gejala gastrointestinal yaitu muntah. Ada
keluhan nyeri kepala, pasien menjadi irritable dan kenaikan suhun
yang ringan.”
DIAGNOSIS

Anamnesis
• Riwayat demam yang lama/kronis, dapat pula berlangsung
akut
• Kejang, deskripsi kejang (jenis, lama, frekuaensi, interval)
kesadaran setelah kejang
• Penurunan kesadaran
• Penurunan (BB), anoreksia, muntah, sering batuk dan pilek
• Riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa
• Riwayat imunisasi BCG
PRESENTASI MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi Klinis Presentase (%)


Gejala
Sakit kepala 50-80
Demam 60-95
Muntah 30-60
Fotofobia 5-10
Anoreksia/BB ↓ 60-80
Pemeriksaan Neurologis Presentase
Kaku kuduk 40-80
Kesadaran ↓ (confusion) 10-30
Koma 30-60
Paresis saraf kranial 30-50
III 5-15
VI 30-40
VII 10-20
Hemiparesis 10-20
Paraparesis 5-10
Kejang 50

• “Pada pasien ini untuk manifestasinya sesuai dengan


Meningitis yaitu nyeri kepala, demam, muntah, penurunan
BB, dan kaku kuduk.”
Pemeriksaan penunjang
• Darah perifer lengkap, LED dan gula darah. Leukosit darah tepi
sering meningkat (10.000 – 20.000 sel/mm3).
• Pungs lumbal :
- LCS jernih, claudy atau santokrom
- Jumlah sel meningkat antara 10-250 sel/mm3
- Protein meningkat diatas 100 mg/dl sedangkan glukosa
menurun dibawah 35 mg/dl, rasio glukosa LCS dan darah
dibawah normal
- Pemeriksaan BTA dan kultur M.Tbc tetap dilakukan
- Jika hasil pemeriksaan LCS yang pertama meragukan, pungsi
lumbal ulangan dapat memeperkuat diagnosis dengan interval
2 minggu.
• CT San atau MRI dapat menunjukan lesi parenkim pada daerah
basal otak, infark, tuberkuloma maupun hidrosefalus.
Pemeriksaan ini dilakukan bila ada indikasi, terutama jika
dicurigai terdapat komplikasi hidrosefalus.
• Foto rontgen dada dapat menunjukan gambaran penyakit
tuberkulosis
• Uji tuberkulin dapat mendukung diagnosis
PEMERIKSAAN CAIRAN SEREBROSPINAL

Cairan Serebrospinal
Kejernihan (%) 80-90
Jumlah sel (sel/mm3) 10-500
Jumlah Leukosit
Neutrofil (%) 10-70
Limfosit (%) 30-90
Protein (g/L) 0,45-3
Rasio glukosa cairan < 0,5
serebrospinal : darah
TATALAKSANA
Medikamentosa dari tb anak
• Sesuai dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics
1994, yakni pemberian 4 macam obat selama 2 bulan
dilanjutkan dengan pemberian INH dan Rifampisin selama 10
bulan.
• Dosis obat antituberkolosis :
1. INH 10-20 mg/kg BB/hari, dosis maksimal 300 mg/hari
2. Rifampisisn 10-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 600
mg/hari
3. Pirazinamid 15-30mg/kgBB/hari, dosis maksimal 2000
mg/hari
4. Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 1000
mg/hari atau streptomisin IM 20-30 mg/kg/hari dengan
maksimal 1 gram/hari
• Tatalaksana TTIK:
• Mengurangi edema serebri
Manitol 20% 0,5-1 g/kgBB IV selama 10-30 menit tiap
4-6 jam
• Mempertahankan fungsi metabolik otak
• Mempertahankan kadar elektrolit pada keadaan normal
• Menghindari peningkatan tekanan intracranial
 Posisi penderita dipertahankan setengah duduk
dengan mengangkat kepala setinggi 20-30 derajar dan
dalam posisi netral
• Indikasi operasi
 Hidrosefalus (untuk mengatasi hidrosefalus dilakukan
ventriculo-peritoneal shunt/VP shunt)
 TB vertebra yang menyebabkan paraparesis
PNEUMONIA

Pneumonia adalah radang paru dengan konsolidasi (proses


ketika paru menjadi keras karena radang, alveolus terisi
dengan eksudat. Pneumonia adalah infeksi akut parenkim
paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial.
EPIDEMIOLOGI

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak


usia kurang dari 5 tahun di seluruh dunia, terutama di
negara berkembang.
ETIOLOGI

Dikutip dari: Sectish TC, Prober CG. Nelson Textbook of Pediatrics. Pediatrics. 18t ed. 2007.

“Etiologi yang memungkinkan pada pasien ini adalah Streptococcus


pneumonia, dikarenakan secara epidemiologi bakteri Streptococcus
pneumonia merupakan etiologi paling sering pada kasus pneumonia”
FAKTOR RISIKO
Beberapa faktor meningkatkan risiko kejadian dan derajat
pneumonia antara lain defek anatomi bawaan, defisit imunologi,
aspirasi, gizi buruk, malnutrisi, berat badan lahir rendah (BBLR),
tidak mendapat ASI eksklusif, tidak mendapat imunisasi campak,
ada saudara serumah yang menderita batuk, polusi udara dalam
rumah dan kepadatan hunian.

“Pada pasien ini yang menjadi faktor risiko adalah polusi udara dalam
rumah dan kepadatan hunian.”
KLASIFIKASI
1. Berdasarkan klinis dan epidemiologi :
a. Pneumonia komuniti
b. Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
2. Berdasarkan penyebab
a. Pneumonia bakterial / tipikal
b. Pneumonia atipikal
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur
3. Berdasarkan predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris
b. Bronkopneumonia
c. Pneumonia interstisial
4. Klasifikasi berdasarkan MTBS
a. Pneumonia sangat berat
b. Pneumonia berat
c. Pneumonia
d. Bukan pneumonia
• “Jenis pneumonia pada pasien ini merupakan bronkopneumonia
yang disebabkan oleh bakteri yang kemungkinan berasal dari
polusi lingkungan sekitar dan kedua orang tua karena sering
menderita batuk pilek. Selain itu juga klasifikasi menurut MTBS
dan WHO termasuk ke dalam kriteria pneumonia berat.”
MANIFESTASI KLINIS
Demam, sakit kepala, gelisah, malaise, nafsu makan menurun,
keluhan gastrointestinal seperti mual muntah atau diare,
malnutrisi berat dan demam jarang terjadi. Selain itu juga
terdapat gejala gangguan respiratori yaitu batuk sesak napas,
retraksi dinding dada, takipnea, napas cuping hidung, air
hunger, merintih dan sianosis.

“Pada pasien ini untuk manifestasinya sesuai dengan


pneumonia, seperti demam, gelisah, malaise, nafsu makan
menurun, muntah, batuk.
PENUNJANG
• Radiologis
Konsolidasi lobar atau segmental disertai air bronchogram, corakan
bronkovaskular bertambah, peribronchial , Gambaran difus bilateral,
coracan peribronkial bertambah, dan infiltrat halus sampai ke
perifer
• Laboratorium
Peningkatan jumlah leukosit dengan dominasi neutrophil sering
didaptkan pada pneumonia bakteri, tetapi dapat pula karena
pneumonia nonbakteri. Diagnosis : isolasi mikroorganisme dari paru,
cairan pleura, atau darah.

“Pada pasien ini sudah dilakukan pemeriksaan penujang foto thoraks dan
pemeriksaan laboratorium. Pada foto thoraks menunjukan adanya hilus kanan
dengan noda-noda, parakardial kanan garis-garis dan noda-noda granuler yang
menunjukan bronkopneumonia. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin
menunjukkan adanya peningkatan leukosit sebesar 14.800.”
PENATALAKSANAAN
• Kriteria rawat inap
Bayi:
Saturasi oksigen ≤92%, sianosis
Frekuensi napas >60x/menit
Distress pernapasan, apnea itermitte, atau grunting
Tidak mau minum/menetek
Keluarga tidak bisa merawat dirumah
Anak:
Saturasi oksigen ≤92%, sianosis
Frekuensi napas >50x/menit
Distress pernapasan
Grunting
Terdapat tanda-tanda dehidrasi
Keluarga tidak bisa merawat dirumah
Perawatan umum di Rumah Sakit
• Terapi oksigen
• Terapi cairan
• Pemberian antibiotic:
Streptococcus pneumoniae (PRSP): Betalaktam, Sefotaksim
Pseudomonas aeruginosa: Aminoglikosid, Seftazidim,
Sefoperason, Sefepim, Tikarsilin,
Legionella: Makrolid, Fluorokuinolon, Rifampisin
Mycoplasma pneumoniae: Doksisiklin, Makrolid,
Fluorokuinolon
Chlamydia pneumoniae,, Doksisikin, Makrolid
Fluorokuinolon
KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)
• Keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi
energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak
memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).

• Suatu kondisi patologis yang diakibatkan kegagalan kronik


dan kumulatif terpenuhinya kebutuhan fisiologis energi dan
protein. Manifestasi klinis diperngaruhi oleh beberapa faktor:
usia, infeksi, kondisi status gizi sebelumnya, serta jenis dan
jumlah keterbatasan makanan yang diterima.
ETIOLOGI

a. Primer : kekurangan konsumsi karena tidak tersedia


bahan makanan
b. Sekunder : kekurangan kalori protein akibat penyakit
(misal: infeksi, ginjal, hati, jantung, paru)

• “Etiologi yang memungkinkan pada pasien ini adalah Primer :


asupan makanan dan minuman yang tidak adekuat setiap
harinya.
KLASIFIKASI
KEP Sedang KEP Berat
Edema simtetris Tidak Ya
Kwashiokor
BB/TB atau -2 s/d -3 SD < -3 SD
BMI/U (usia >5th) (kurus) Marasmus
(Z-skor)
TB/U -2 s/d -3 SD < -3 SD
(Z-skor) (pendek) (sangat pendek)

• Untuk anak >5th sebagai pembanding digunakan referensi kurva


pertumbuhan WHO 2007 dan menggunakan indeks antropometri
BMI untuk usia (BMI/U) sebagai pengganti BB/TB.

• Berdasarkan table kualifikasi KEP pasien dengan BMI/U pada ini


digaris -3 SD, termasuk klasifikasi KEP Sedang. maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa pasien ini termasuk KEP sedang dan sesuai dengan
diagnosis pada pasien ini.
MANIFESTASI KLINIS

• Sebagian besar penyakit KEP terdapat dalam bentuk ringan.

• Gejala penyakit KEP ringan ini tidak jelas, hanya terlihat


bahwa berat badan anak lebih rendah jika dibandingkan
dengan anak seumurnya.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Darah: Hb, leukosit, eritrosit, nilai absolut eritrosit, Ht, apus


daral tepi, albumin, protein total, ureum, kreatinin,
kolesterol total, HDL, tigliserida, Fe, TIBC, elektrolit, glukosa,
dan biakan

• Urin: rutin, kultur

• Apus rektal untuk pemeriksaan parasite

• Foto rontgen toraks


PENATALAKSANAAN

Tatalaksana diet pada balita dengan KEP ditujukan untuk


memberikan makan tinggi energy, protein, dan cukup vitamin,
dan mineral secara bertahap guna mencapai status gizi yang
optimal. Terdapat 4 kegiatan penting dalam tatalaksana diet
yaitu:
- Pemberian diet
- Pemantauan dan evaluasi
- Penyuluhan gizi
- Tindak lanjut.