You are on page 1of 62

KEBIJAKAN , STRATEGI &

TATALAKSANA DBD
DI JAWA TENGAH
3 NOVEMer 2014

Disampaikan pada
Pertemuan Pengendalian DBD
di Kab. PATI
DEMAM BERDARAH DENGUE
OUTLINE

1. PENDAHULUAN
2. KEBIJAKAN, STRATEGI
3. SITUASI DBD DI JATENG
4. TATALAKSANA & DIAGNOSA
5. PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN DBD
6. PENUTUP

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 2


BAGIAN KESATU

PENDAHULUAN

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 3


DBD termasuk emerging diseases yang sampai saat ini menjadi
masalah kesehatan masyarakat utama dan berpotensi menimbulkan
KLB terutama pada musim penghujan.

Banyak terjadi di daerah tropis/ subtropis spt Indonesia dan


negara Asia Tenggara lainnya serta negara Amerika Latin seperti
Brasil dll

Obat dan Vaksin belum ada

Vektor penular nyamuk Ae. Aegypti dan Ae. Albopictus mampu


bertelur dalam jumlah yang banyak  PSN dan pemberdayaan
masyarakat menjadi strategi utama.

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 4


“Iceberg” phenomenon: The ‘Invisible’ Majority

Deaths

Hospitalised cases
REPORTED
Patients seeking healthcare

Sick but not seeking healthcare


Those with mild illness UNREPORTED

Asymptomatic infections
Carriers
SITUASI DBD DUNIA

INDONESIA

Sumber Data: WHO 2004-2010


ANGKA KESAKITAN (IR) KASUS DBD
TAHUN 2013

Target
Nasional :
52/100.00
0 pddk
ANGKA KEMATIAN (CFR) DBD DI INDONESIA
TAHUN 2013
BAGIAN KEDUA

KEBIJAKAN DALAM
PENGENDALIAN DBD

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 11


Kebijakan Pengendalian DBD
• Meningkatkan perilaku hidup sehat dan
kemandirian terhadap pengendalian DBD
• Meningkatkan perlindungan kesehatan
masyarakat terhadap penyakit DBD
• Meningkatkan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi program pengendalian DBD
• Memperkuat kerjasama LS/LP
• Pembangunan berwawasan lingkungan
Strategi Pengendalian DBD
• Pemantauan Kasus dan Vektor DBD
• Peningkatan kemitraan berwawasan bebas dari
penyakit DBD
• Peningkatan profesionalisme pengelola
program
• Pembangunan berwawasan kesehatan
lingkungan
BAGIAN KETIGA

SITUASI DBD JATENG


S/D SEPTEMBER 2014
DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 14
Situasi Kasus DBD 2009 – 2014 (Sept)
JUMLAH INCIDENT CASE
JUMLAH KAB./KOTA KAB./KOTA DGN CFR
NO TAHUN KASUS RATE/100.000 FATALITY
KEMATIAN IR TERTINGGI TERTINGGI ( 1 %)
DBD pddk RATE (%)

Kt Semarang, Kt Magelang, Kt Pekalongan, Pemalang,


1 2009 18.650 259 57,86 1,42 Jepara, Kt Surakarta, Kt Kudus, Brebes, Batang, Kt
Tegal, Kab Pekalongan Tegal
Kt Semarang, Kt Magelang, Kendal, Karanganyar,
2 2010 19.362 250 58,91 1,29 Jepara, Kudus, Kt Surakarta, Klaten, Pati, Banyumas,
Pati Kudus
Kt Semarang, Kt Magelang, Kab Pekalongan, Blora, Kt
3 2011 4.946 47 15,27 0,95 Purworejo, Pati, Jepara, Pekalongan, Kab Tegal,
Sragen, Demak Klaten, Rembang

Kt Semarang, Jepara, Wonogiri, Kt Surakarta, Kab


4 2012 7.088 108 19,29 1,52 Rembang, Blora, Demak, Tegal, Batang, Brebes,
Kt Magelang, Grobogan Kebumen
Cilacap, Boyolali, Klaten,
Purbalingga, Grobogan,
5 2013 15.146
Grobogan, Blora, Rembang,
183 45,52 1,21 Rembang, Kudus, Jepara,
Demak, Kab.SMG, Kendal,
(Jan- Des) Kota MGL, Kota SMG
Tegal Brebes, Kota Smg
2014 Clcp, Bms, Banjar, Mgl, Byll, Kltn,
Banjngr, Byll, Kr.anyar, Skhj, Grbg, Blora, Rmbg, Jpr, Dmk,
6 (Jan- 7.928 128 23.82 1,61 Srgn, Kota Tgl, Kab Tgl Smg, Tmgg, Pml, Pkl, Kota SMG,
15
Sept) Kota PKL.
Indikator

 Angka Kesakitan DBD (≤20 per 100.000 penduduk)


Tahun 2012 = 19,29
Tahun 2013 = 45,52
Tahun 2014 (Jan-Maret) = 23,82

 Angka Kematian DBD (<1%)


Tahun 2012 = 1,52 %
Tahun 2013 = 1,21 %
Tahun 2014 (Jan-Maret) = 1,61 %
INCIDENT RATE DBD
DI JAWA TENGAH TAHUN 1990 – 2014 (TW3)

70

62
60 59.257.9
56.8

50 45.5

48.4
/100.000 Penduduk

40 32.7 33.7
31.4
26.1
30 23.6 27.2 23.82
18.4 19.29
17.1
20 14.6
14.7
20
19.4 15.3
17.3 19.1
16.5
16.1
10

0
90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 '00 '01 '02 '03 '04 '05 '06 '07 '08 09 10 11 12 13 14
(jan-
Sept)

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 17


INCIDENT RATE DAN CASE FATALITY RATE DBD
DI JAWA TENGAH TAHUN 1990-2014 (TW3)

70
60
50
/100.000 pendd

40
30
20
10
0 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 '00 '01 '02 '03 '04 '05 '06 '07 '08 09 10 11 12 13 14
IR 14. 14. 16. 17. 17. 32. 48. 18. 31. 16. 19. 23. 19. 26. 27. 20 33. 62 59. 57. 56. 15. 19. 45. 23.
CFR 3.1 2.0 3.1 2.4 2.3 2.4 2.1 1.7 2.3 1.4 1.3 1.4 1.5 2.2 1.8 2.2 2.0 1.6 1.1 1.4 1.2 0.9 1.5 1.2 1.6

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 18


DISTRIBUSI ANGKA KESAKITAN DBD
DI JAWA TENGAH, 2013

Jateng= 45,52/100.000 pddk Jepara


Jepara
Target = < 20/100.000 pddk Pati
Kudus Rembang
Kota

Brebes KotaTegal Pekalongan Demak


Kota Semarang Blora
Batang Kendal
Pekalongan Bata
Tegal Pemalang ng
Pekalongan Kab Semarang Grobogan
Temanggung Salatiga

JATIM
Purblg
Cilacap Bj negara WonosoboKab. Mgl Sragen
JABAR

Banyumas Magel
Kota MglBoyolali
ang Surakarta
Kr.anyar
Kebumen
Klaten
PurworejoMagelan Sukoharjo
g
DI. Yogyakarta
Wonogiri

Keterangan :
Incident Rate > 20/100.000 pddk
Incident Rate < 20/100.000 pddk
RENCANA KERJA TERPADU 19
P2PL 2014
20,00
40,00
60,00
80,00

0,00
100,00
120,00
140,00
160,00
WONOGIRI 5,92 180,00
PURWOREJO 6,49
KEBUMEN 9,14
WONOSOBO 11,92
TEGAL 12,17
PEMALANG 12,30
MAGELANG 17,14
BANJARNEGARA 17,40
BOYOLALI 23,60
KOTA TEGAL 24,53
SEMARANG 29,95
KLATEN 30,01
SUKOHARJO 32,17
BREBES 32,87
BANYUMAS 34,50
KOTA SALATIGA 37,75
IR Jateng = 45,52/100.000 pddk

PEKALONGAN 38,08
IR Kab/Kota >= 20/100.000 pddk

SRAGEN 40,90
TEMANGGUNG 42,56
KARANGANYAR 46,02
PATI 46,15
CILACAP 47,58

RENCANA KERJA TERPADU P2PL 2014


KOTA SURAKARTA 48,67
JANUARI – DESEMBER 2013

GROBOGAN 48,91
BATANG 53,12
KUDUS 57,50
DEMAK 58,00
KENDAL 60,02
64,16
PURBALINGGA
64,57
GRAFIK INCIDENT RATE DBD PER KAB./KOTA JATENG

REMBANG
KOTA … 65,11
BLORA 67,64
KOTA SEMARANG 137,00
25

KOTA MAGELANG 141,91


JEPARA 169,53
20
PETA CFR DBD JATENG 2013
Jateng = 1.21 %
Standar Nas < 1%
Jepara
Jepara
Pati
Kota Kudus Rembang
Kota
Tegal
Brebes Pekalongan Demak
Kota Blora
Batang
Pekalongan Bata Kendal Semarang
Tegal Pemalang ng
Pekalongan Kab Semarang Grobogan
Temanggung

JATIM
Salatiga
Purbl
Cilacap g Bj negara Wonosobo Kab. Mgl Sragen
JABAR

Banyumas Mage
Kota
lang Mgl Boyolali
Surakarta
S
Kebume
Klaten R Kr.anyar
n Purworej Magela K
Sukoharj
o ng o
DI. Yogyakarta
Wonogiri
Keterangan :
CFR > 1 %
CFR > 0 s/d 1 %
CFR =0 DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 21
GRAFIK INCIDENT RATE DBD
PER KAB./KOTA JATENG THN 2014 (Jan-Sept)
IR Jateng = 23,82/100.000 pddk

90.00
80.82
80.00
IR Kab/Kota >= 20/100.000 pddk
70.00

60.00

50.00 46.87
44.1245.07
40.00
38.72
40.00 34.39
27.67 30.74
23.67 25.22 30.67 30.84
30.00 22.12 25.81
25.78
24.89
15.46 16.1819.5420.7320.75 22.38
20.00 11.13 14.12 15.5116.02
7.39 10.18 12.92
5.20 8.28
10.00 4.82
2.44 4.22
0.00
BANJARNEGARA

CILACAP

PURBALINGGA
BANYUMAS

BREBES

JEPARA
REMBANG

DEMAK
BLORA

GROBOGAN
KEBUMEN

TEGAL

BATANG

SRAGEN
TEMANGGUNG
SEMARANG

BOYOLALI
PURWOREJO

KARANGANYAR
PEKALONGAN

KUDUS
SUKOHARJO
MAGELANG
WONOSOBO

KOTA SALATIGA

KENDAL
PEMALANG

KLATEN
WONOGIRI

KOTA MAGELANG
PATI

KOTA SURAKARTA
KOTA TEGAL

KOTA SEMARANG
KOTA PEKALONGAN

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 22


GRAFIK CASE FATALITY RATE DBD
PER KAB./KOTA JATENG THN 2014 (Jan-Sept)
6.00
CFR Jateng = 1,61 %
IR Kab/Kota >= 20/100.000 pddk 4.93
5.00
4.44

4.00 3.70 3.76 3.80


3.49 3.62
3.19
3.00
2.34
1.98 2.21
2.00 1.49 1.79
1.44 1.501.67
1.31 1.39 1.46 1.50

1.00 0.760.79 0.87


0.250.53
0.00 0.00 0.00 0.00
0.00
0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
0.00

KUDUS
BANYUMAS

BREBES

DEMAK
CILACAP
WONOSOBO

SUKOHARJO
PURWOREJO

JEPARA
BLORA
SRAGEN

KLATEN
KEBUMEN

KOTA SALATIGA

PEKALONGAN
PURBALINGGA

BANJARNEGARA
KOTA SURAKARTA

GROBOGAN

TEGAL
KENDAL

KOTA PEKALONGAN
BATANG
SEMARANG

PEMALANG
KOTA TEGAL

MAGELANG

REMBANG
TEMANGGUNG

KOTA SEMARANG
KOTA MAGELANG
PATI

KARANGANYAR

BOYOLALI
WONOGIRI

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 23


BAGIAN KEEMPAT

DIAGNOSA &TATALAKSANA
DBD
DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 24
DIAGNOSA DB/CHIK
Kriteria WHO

1997 2012

2009 2011
Demam Berdarah Dengue ( DBD)
Manifestasi klinis
Demam tinggi, timbul Nyeri epigastrik, muntah,
mendadak, kontinua, nyeri abdomen difus,
kadang bifasik, Kadang disertai sakit
Berlangsung antara 2-7 tenggorok.
hari. Faring dan konjungtiva
Muka kemerahan (facial yang kemerahan
flushing) , anoreksi, Dapat disertai kejang
mialgia dan artralgia. demam.
Tanda dan Gejala

KLMNOPR

K epala nyeri
L emah

Demam/panas
M ual,muntah
tinggi N yeri O tot & sendi
mendadak
P erdarahan spontan
Terus menerus
R uam
selama 2-7
hari.
Kriteria WHO 1997
• Klinis :
• Derajat I
– Demam 2 – 7 hari ( riwayat
demam ) – Demam dengan uji
– Perdarahan : uji RL (+) / bendung positif
spontan • Derajat II
– Pembesaran hati – Demam dengan
– Syok perdarahan spontan
• Laboratorium : 2 klinis +lab • Derajat III
– Trombositopenia (<100.000 /ul) – Anak gelisah,biru sekitar
– Hemokonsentrasi (.>20%) mulut, kaki tangan
• Atau Tanda kebocoran dingin,tekanan darah
plasma (efusi pleura, ascites, turun,nadi lemah
hipoproteinemia) • Derajat IV
• Penurunan hematokrit – Anak syok berat, diam
setelah resusitasi.
saja,tekanan darah tidak
terukur,nadi tak teraba
1997 Diagnosis classification
2009 2011 2012
Dengue fever Dengue without Dengue fever Dengue without
warning signs warning signs

DHF grade I Dengue with warning DHF grade I Dengue with warning
signs signs

DHF grade II DHF grade II


DHF grade III Severe dengue DHF grade III Severe dengue
( severe plasma ( severe plasma leakage,
leakage, severe severe hemorrhage,
hemorrhage, severe severe organ
organ involvement) involvement)

DHF grade IV DHF grade IV

* Expanded dengue
syndrome
Adult management Adult management Adult management
Kewaspadaan Dini Rumah Sakit
(KDRS)

www.themegallery.com
Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS)
Klinis Hasil Laboratorium
Demam / Riwayat Ya / tidak Tromb saat diagnosis
demam
Uji Tornikuet + / - Hemoglobin saat diagnosis

Hepatomegali Hematokrit saat diagnosis

Syok Hematokrit saat datang **


Klinis Lain ( alternatif akumulasi cairan Ig M + / -

Efusi Pleura + / - Ig G + / -

Ascites + / - Ns 1 Ag Dengue + / -

Hipoproteinemia + / -

Demam dengue
Demam Berdarah Dengue Sindrom Syok Dengue
Diagnosis
• Diagnosis pasti
• Bila terdapat 1hal berikut:
– Penderita titer Antibodi naik 4 kali lipat
– Isolasi virus
– Deteksi virus dengan PCR
• Diagnosis Banding
– DD/DBD
– Serangan demam lebih singkat, sakit sendi yang
lama, tidak terjadi kematian

33
TATALAKSANA

Rumah Pusk Rujuk RS

istirahat Anamnesa Tumpah terus


kompres Observasi
lemas
Banyak
minum Periksa Tanda/gejala Badan dingin
Antipiretik Uji RL mimisan

Periksa lab
Bila kejang Perdarahan Perdarahan lain
jg mskan
lwt mulut 34
Chikungunya
Penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk aedes pada seorang
penderita.
Manifestasi klinik menyerupai infeksi virus dengue.
Symptom/gejala
Panas mendadak ( 92 % )
Mengeluh nyeri sendi yang sangat ( 87 % )
Sakit punggung ( 67%) ; sakit kepala (67%)
Pada kulit tubuhnya dapat ditemukan (bercak
merah) makulo papuler ,dan pemeriksaan darah
tepi menunjukkan leukosit menurun

36
Diagnosis

• Diagnosis akurat : Serum sesudah sakit dengan


metode IgM Capture Ellisa
• Diagnosis Klinis
• Demam mendadak, disertai sakit sendi, sakit
kepala,nyeri pinggang/ punggung, foto fobia,
Rush (ruam kulit)
• Minggu terakhir berada didaerah yang
terjangkit Chikungunya

37
BAGIAN KELIMA

PENCEGAHAN DAN
PENANGGULANGAN DBD
DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 38
Perilaku Ae. Aegypti

• Nyamuk betina mencari mangsa pada siang hari


• Aktifitas menggigit mulai pagi sampai petang hari, dengan
puncak aktifitas antara pukul 09.00 – 10.00 & 16.00 – 17.00
• Tempat hinggap (istirahat) : benda-benda yang tergantung
seperti pakaian, kelambu, atau tumbuh-tumbuhan di dekat
tempat perkembangbiakannya, biasanya di tempat yang agak
gelap dan lembab.
• Setiap kali bertelur 100 buah
• Seekor nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak
752 selama 72 hari
• Usia 2-3 bulan
• Jarak terbang
- Jangkauan terbang Aedes dengan radius <150 m
radius (Lee, 2000)
- 400 – 1000 m (Cumming, 1931)
- s/d 2,5 km (Wolfinsohn & Galun, 1953)
• Reaksi terhadap bau
- Ae. Aegypti atraktif terhadap keringat
- Napas manusia sangat menarik perhatian
Ae. Aegypti
- CO2
HAL-HAL YANG PERLU DIPAHAMI
Jenis nyamuk
Ae. albopictus Aedes albopictus bersifat peridomestik
artinya :
Berkembangbiak, maupun bersarang/ resting
berada di luar bangunan/ rumah, tetapi masuk
kedalam bangunan/ rumah hanya
makan/mencari darah

Ae. aegypti Aedes aegypti nyamuk bersifat domestik


artinya :
Berkembangbiak,mencari makan/mencari
darah maupun bersarang/ resting berada di
dalam bangunan/ rumah.
TRANSOVARIAL TRANSMISSION

TRANSOVARIAL ADALAH :
Penularan pathogen terutama virus
dan rickettsia dari serangga
infected ke generasi serangga
berikutnya melalui telur yang
dikeluarkan.
-
Pencegahan dan Pengendalian vektor saat
ini yang merupakan metode yang paling
direkomendasikan :
PSN (3M plus)
Pengendalian kimia (fogging & larvacidasi)
Pendidikan kesehatan (Masy & anak sekolah)
Pelaksanaan kebijakan DBD-lintas sektoral
Pendekatan terintegrasi
FA/Demam berdarah
PENANGGULANGAN FOKUS (PF)

Kegiatan Pemberantasan Nyamuk penular


DBD yang dilaksanakan dengan melakukan :
1. PSN-DBD.
2. Larvasidasi.
3. Penyuluhan.
4. Fogging / Pengasapan (sesuai dg Kriteria )

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 45


TUJUAN
PENANGGULANGAN FOKUS

• Untuk membatasi penularan DBD dan


mencegah terjadinya KLB di lokasi
tempat tinggal penderita DBD dan
rumah/bangunan sekitar serta TTU
berpotensi menjadi sumber penularan
lebih lanjut.

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 46


KRITERIA
PENANGGULANGAN FOKUS DBD
- PSN-3M
*Kriteria PF : (1)
-Penyuluhan
1. Bila DITEMUKAN kasus DBD lain (1 atau -LARVASIDASI
lebih) dan/atau -Fogging focus
2. DITEMUKAN > 3 suspek/tersangka DBD radius 200 m 2
3. DITEMUKAN jentik nyamuk DBD siklus interval 1
≥5% dari seluruh rumah yang minggu
diperiksa
*Kriteria PF : (2) - PSN-3M
1. Bila TIDAK ditemukan kasus DBD lainNYA -Penyuluhan
2. Dan ditemukan jentik nyamuk DBD ≥5% dari -LARVASIDASI
seluruh rumah yang diperiksa
*Kriteria PF : (3)
1. Bila TIDAK ditemukan kasus DBD lainNYA -Penyuluhan
2. Dan TIDAK ditemukan jentik
DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 47
KRITERIA
PENANGGULANGAN FOKUS CHIK
- PSN-3M
*Kriteria Positif : (1)
-Penyuluhan
1. Bila DITEMUKAN > 1 kasus -LARVASIDASI
Chikungunya -Fogging focus
dan/atau radius 200 m 2
2. DITEMUKAN jentik nyamuk DBD siklus interval 1
minggu
≥5% dari seluruh rumah yang diperiksa
*Kriteria Negatif : (2) - PSN-3M
1. Bila TIDAK ditemukan kasus lainNYA -Penyuluhan
2. Dan ditemukan jentik nyamuk DBD -LARVASIDASI
≥5% dari seluruh rumah yang diperiksa

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 48


Bagan PE DBD
Penderita DBD

Penyelidikan
Epidemiologi
(PE) 100 m/20 rmh

POSITIF : NEGATIF :
- Ditemukan > 1 DBD Tak Memenuhi 2
- > 3 suspek,Jentik >5 % Kriteria

1. PSN
1. PSN
2. Larvasidasi
2. Larvasidasi
3. Penyuluhan
3. Penyuluhan
4. Fogging 200 m 2 x Suspek =Panas tanpa sebab yg jelas
Bagan PE Tersangka
Chikungunya Chikungunya

Penyelidikan
Epidemiologi
(PE) 100 m/20 rmh

Ditemukan > 1 Penderita/Tersangka, (HI) Jentik >5 %

POSITIF : NEGATIF :
1. PSN 1. PSN
2. Larvasidasi 200 M 2. Larvasidasi 200 M
3. Penyuluhan 3. Penyuluhan
4. Fogging 200 m 2 x Suspek =Panas tanpa sebab yg jelas
PENANGANAN KASUS DI
MASYARAKAT :
PENYELIDIKAN PENGASAPAN :
EPIDEMIOLOGI 1. ADA KASUS
TAMBAHAN DBD
2. ADA 3 ATAU LEBIH
PENDERITA PANAS
TANPA SEBAB
YANG JELAS
3. BANYAK
DITEMUKAN JENTIK
100 M
PENGASAPAN
DILAKUKAN 2 SIKLUS,
INTERVAL 1 MINGGU
100 M PENGASAPAN DISERTAI
PSN 3 M PLUS
= KASUS

= KASUS TAMBAHAN

= KASUS PANAS TANPA SEBAB


HUBUNGAN R.S DAN PUSKESMAS
DALAM PENANGGULANGAN KASUS
RUMAH PUSKESMA Penanggulangan
SAKIT S seperlunya,
Penemuan kasus dan meliputi:
Melakukan -Fogging focus*)
Melakukan penegakan Penyelidikan
(penyemprotan)
diagnosis & epidemiologi (PE)
di sekitar rumah -LARVASIDASI
tatalaksana
penderita dalam -3M Plus
DBD sesuai standar
radius 100 m -Penyuluhan
Melaporkan
kasus DBD ke
Dinkes Kab/Kota &
*Kriteria Fogging focus:
Puskesmas dalam 1. Bila ditemukan kasus DBD lain
waktu <24 jam dan/atau ditemukan 3 Penderita panas
tanpa sebab yang jelas,
2. Dan ditemukan jentik nyamuk DBD ≥5% dari
seluruh rumah yang diperiksa
PENANGGULANGAN FOKUS

P Fogging
E 100
Radius Fokus
Radius 200 Meter
Meter

Penderita

Fogging Fokus
2 kali
Interval 1 minggu
MEKANISME Surveilans DBD

Surveilans Kasus
1 SARS
AKTIF PASIF SPRS, W2, SST

RS, Praktek Swasta, Puskesmas


Data Invidual

Basis Lab  Sentinel RS


ABJ DAN CI
2 Surveilans VEKTOR
Kepadatan
Populasi Vektor

3 • Hari Hujan
Surveilans IKLIM • Curah Hujan
• Intensitas Hujan
4 Hasil Penelitian &
Data Demografi dll
(lanjutan)
• MAPPING
DAERAH RAWAN
1. Deteksi Dini

•TINGKAT 2. Tindakan Cepat


ENDEMISITAS 3. Tindakan
Efektif
• DETEKSI 4. Antisipasi
ANCAMAN KLB
•Kasus mulai
meningkat dan KLB
Diagram Surveilans Integrasi DBD
di Puskesmas

Data ABJ Data ABJ Data ABJ


Dasa Wisma Hasil PE Jumantik

Data Kasus Surveilans Data Kasus


Dari Kab/Kota Puskesmas Reg.Harian

Dibuat Dibuat Dibuat tabel ABJ Dibuat tabel kasus


Mapping ABJ Mapping ABJ per Kelurahan PWS-KLB
per RW per & Kasus per RW per (mingguan) (mingguan)
Kelurahan Kelurahan

Dimanfaatkan untuk action Dikirimkan ke Kab/Kota


(Puskesmas) (mingguan)
Pemanfaatan hasil olahan data
untuk Action di tingkat Puskesmas

1. Lakukan PSN “amat segera” untuk RW yang ABJ


dibawah 95 % dan ditemukan kasus
2. Lakukan monitoring terhadap kemungkinan tambahan
kasus di daerah ABJ < 95 %.
3. Pertimbangkan untuk Foging bila kasus bertambah
terus di daerah ABJ < 95 %
4. Lakukan PSN “segera” untuk RW dengan ABJ < 95 %
Perkembangan Teknologi
Pengendalian DBD

• Pengembangan vaksin DBD, memasuki fase III,


tahun kedua .
• Beberapa penelitian tentang modifikasi pada
nyamuk (mandul, wolbachia)
• Pemeriksaan sirkulasi serotype virus Dengue di
beberapa daerah endemis.

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 58


BAGIAN KEENAM

PERMASALAHAN, SOLUSI
DAN TANTANGAN
DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 59
BAGIAN KETUJUH

PENUTUP

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 60


Bagian 6 : PENUTUP

1. Penanggulangan DBD yang paling efektif dan efisien adalah


dengan gerakan PSN 3M Plus secara terpadu dan kontinue.
2. Mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional
(Pokjanal) di Kab./Kota
3. Bupati/Walikota melalui jajarannya agar meningkatkan
komitmen terhadap pengendalian DBD  Meningkatkan
pendanaan untuk “kegiatan Juru Pemantau Jentik
(Jumantik)”.
4. Mendukung regulasi pemerintah daerah tentang pengendalian
Demam Berdarah Dengue
5. Menggalang kemitraan di bidang kesehatan dengan mitra
kerja di masing-masing daerah ( mis : perguruan tinggi,
media massa, organisasi, swasta dan komponen masyarakat
lainnya) dalam PSN. 61
BERSAMA KITA BISA !!!

Shifting from reactive to Strengthening capacity in an United fight against


proactive approaches efficient and sustainable way dengue

DBD – P2 Dinkes Prov Jateng 62