You are on page 1of 26

KEBUDAYAAN SUMATERA

SEALATAN
OLEH : RAHMANSYAH RAFI’UDDARAJAT
XI IPS 3
RUMAH ADAT

 Di Sumatra Selatan, seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, terdapat


karya seni arsitektur yaitu Rumah Limas dan masih bisa kita temukan sebagai
rumah hunian di daerah Palembang. Rumah Limas Palembang telah diakui
sebagai Rumah Adat Tradisional Sumatera Selatan.
PAKAIAN ADAT
 Pakaian adat Suamtra Selatan sangat terkenal dengan sebutan Aesan gede yang
melambangkan kebesaran, dan pakaian Aesan paksangko yang melambangkan
keanggunan masyarakat Sumatera Selatan. Pakaian adat ini biasanya hanya
digunakan saat upacara adat perkawinan. Dengan pemahaman bahwa upacara
perkawinan ini merupakan upacara besar. Maka dengan menggunakan Aesan Gede
atau Aesan Paksangko sebagai kostum pengantin memiliki makna sesuatu yang
sangat anggun, karena kedua pengantin bagaikan raja dan ratu.Pembeda antara
corak Aesan Gede dan Aesan Paksongko, jika dirinci sebagai berikut; gaya Aesan
Gede berwarna merah jambu dipadu dengan warna keemasan. Kedua warna
tersebut diyakini sebagai cerminan keagungan para bangsawan Sriwijaya. Apalagi
dengan gemerlap perhiasan pelengkap serta mahkota Aesan Gede, bungo
cempako, kembang goyang, dan kelapo standan. Lalu dipadukan dengan baju
dodot serta kain songket lepus bermotif napan perak. Pada Aesan Paksangkong.
Bagi laki-laki menggunakan songket lepus bersulam emas, jubah motif tabor bunga
emas, selempang songket, seluar, serta songkok emeas menghias kepala. Dan bagi
perempuan menggunakan teratai penutup dada, baju kurung warna merah ningrat
bertabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus bersulam emas, serta hiasan
kepala berupa mahkota Aesan Paksangkong. Tak ketinggalan pula pernak-pernik
penghias baju seperti perhiasan bercitrakan keemasan, kelapo standan, kembang
goyang, serta kembang kenango.
SENJATA

 1. Senjata Tradisional Tombak Trisula


 Senjata tradisional Sumatera Selatan yang pertama dan yang kerap menjadi
ikon budaya provinsi ini adalah tombak trisula. Tombak ini berbentuk sebuah
tombak kayu dengan 3 mata tajam di bagian ujungnya. Panjang tombak
setinggi orang dewasa, yakni sekitar 180 cm dan dahulunya digunakan prajurit
kerajaan Sriwijaya sebagai senjata utama.
SENJATA

 2. Senjata Tradisional Keris


 Keris bukan hanya dikenal masyarakat Pulau Jawa. Beberapa daerah sub etnis
Melayu lainnya juga mengenal senjata jenis tikam ini dalam budayanya,
termasuk masyarakat daerah Sumatera Selatan. Kendati memiliki bentuk yang
sama, namun keris Sumatera Selatan memiliki ciri khasnya sendiri. Jumlah luk
atau lekukannya selalu berjumlah ganjil antara 7 sampai 13 luk dengan sudut
yang lebar. Itulah mengapa keris khas Sumatera Selatan cenderung lebih
panjang dan lancip.
SENJATA

 3. Senjata Tradisional Skin


 Skin adalah senjata tradisional Sumatera Selatan yang diperkirakan berasal
dari akulturasi budaya lokal dengan budaya pedagang Tionghoa dan Asia Timur
di masa silam. Senjata ini tampak seperti Kerambit khas Sumatera Barat,
namun ukurannya lebih kecil dan memiliki 2 bilah tajam.
SENJATA

 4. Senjata Tradisional Khudok


 Bergeser ke arah hulu, tepatnya dalam budaya masyarakat Pagar Alam, kita
akan menemukan varian senjata tradisional Sumatera Selatan lainnya yang
hingga kini masih eksis. Senjata tersebut bernama khudok.
LAGU DAERAH

 Pempek Lenzer
 Kabile Bile
 Dirut
 Dek Sangke
 Kapal Selam
 Cup Mak Ilang
 Petang – Petang
 Palembang Bari
 Palembang Diwaktu Malam
 Gending Sriwjaya
 Ribu-Ribu
SENI TARIAN DAERAH

 1. Tari Gending Sriwijaya

 Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti
kepala Negara, Duta Besar dan Tamu-tamu agung lainnya. Tari Gending
Sriwijaya Hampir sama dengan tari Tanggai, perbedaannya terletak pada
penggunaan tari jumlah penari dan perlengkapan busana yang dipakai.
 2. Tari Tanggai

 Tari tanggai dibawakan pada saat menyambut tamu-tamu resmi atau dalam
acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan
memakai pakaian khas daerah seperti kaian songket, dodot, pending, kalung,
sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang
dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga Tari ini
merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai busana khas daerah para
penari kelihatan anggun dengan busana khas daerah. Tarian menggambarkan
masyarakat palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta
menyayangi tamau yang berkunjung ke daerahnya
ALAT MUSIK

 ALAT MUSIK TENUN


 Alat musik ini terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang, bagian tengahnya
terdapat bentuk segitiga berangkai yang apabila dipukul akan menghasilkan
bunyi tertentu.

 Dinamakan alat musik tenun karena alat musik ini memang dahulunya sering
dimainkan ketika para wanita sedang bekerja menenun kain. Alat musik ini
adalah sarana hiburan dan pelipur rasa bosan bagi para wanita yang sehari-
hari bekerja. Cara memainkannya cukup mudah yaitu dengan cara dipukul
menggunakan kayu pada bagian-bagian tertentu yang menghasilkan nada-
nada berbeda.
ALAT MUSIK
 Burdah atau Gendang Oku
Burdah adalah alat musik sejenis gendang berukuran besar yang dibuat dari kulit hewan
dan kayu nangka, dibandingkan dengan rebana, ukuran burdah lebih besar. Karena alat
musik ini pertama kali ditemukan dalam budaya masyarakat Ogan Komering Ulu atau
OKU, maka banyak pula orang yang menyebut alat musik ini dengan nama Gendang Oku.

 Burdah sering dimainkan dalam acara-acara adat sebagai alat musik ritmis. Cara
memainkannya yaitu dengan ditepuk bagian kulit membrannya menggunakan telapak
tangan. Dalam upacara pernikahan, latihan pencak silat, atau saat ada upacara adat
Palembang kita akan dengan mudah menemukan alat musik ini.

 Selain itu, alat musik tradisional Burdah / gendang oku ini dimainkan untuk
mengiringi lagu Islami (barjanji) pada acara keagamaan yang dimainkan sendiri
maupun berkelompok. Burdah juga sering digunakan untuk mengiringi kesenian
pencak silat.
SENI PERTUNJUKAN

 DUL MULUK

 Dul muluk adalah salah satu kesenian tradisional yang ada di Sumatera Selatan biasanya seni
Dul Muluk ini dipentaskan pada acara yang bersifat menghibur, seperti pada acara :
pernikahan pergelaran tradisional dan panggung hiburan
 BANGSAWAN

 Merupakan bentuk teater tradisional yang lahir sesudah kehadiran teater Dul Muluk da n
mempunyai cirri-ciri sebagai berikut : ;
 1. Sumber cerita bebas namun bersifat istana sentries
 2. Sifat cerita tragedy (sedih)
 3. Pemeran cerita diperankan oleh jenis kelamin sesungguhnya
 4. Setting cerita disesuaikan dengan kebutuhan cerita
SENI PERTUNJUKAN
 BANGSAWAN

 Merupakan bentuk teater tradisional yang lahir sesudah kehadiran teater Dul Muluk
dan mempunyai cirri-ciri sebagai berikut : ;
 1. Sumber cerita bebas namun bersifat istana sentries
 2. Sifat cerita tragedy (sedih)
 3. Pemeran cerita diperankan oleh jenis kelamin sesungguhnya
 4. Setting cerita disesuaikan dengan kebutuhan cerita

 WAYANG PALEMBANG

 Wayang Palembang merupakan warisan dari kesenian Jawa yang ceritanya sama
dengan wayang yang ada di Pulau Jawa, namun bahasa yang digunakan adalah
bahasa Palembang Wayang Palembang aktif dimainkan di RRI stasiun Palembang
SENI SASTRA

 Sastra Lisan dari Sumatera Selatan termasuk sastra lisan rumpun Melayu,
sebagaimana juga orang-orang Sumatera Selatan adalah rumpun/suku Melayu,
dengan sub-suku Melayu Ogan, Melayu Komering, Melayu Musi, Melayu Palembang,
dll. Adapun jenis-jenis sastra lisan Sumatera Selatan :

 1. Mantra, dengan nama-nama lainnya adalah Jampi, Sepengucap, Ilmu Tumbuk,


Pengasihan, Penawar, dll.

 2. Pantun, dengan nama-nama lainnya adalah Guritan, dll

 3. Dongeng, dengan nama-nama lainnya adalah Cerita, Kisah, dll

 4. Tembang (Nyanyian) yang dikenal dengan nama Tembang Batanghari Sembilan,


Senjang, dll.
BAHASA DAERAH

 Bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu Tua yang berbaur dengan
bahasa Jawa dan diucapkan menurut logat/dialek wong Palembang.
Seterusnya bahasa yang sudah menjadi milik wong Palembang ini diperkaya
pula dengan bahasa-bahasa Arab, Urdhu, Persia, Cina, Portugis, Iggris dan
Belanda. Sedangkan Aksara bahasa Melayu Palembang, menggunakan aksara
Arab (Arab-Melayu) atau tulusan Arab berbahasa Melayu (Arab Gundul/Pegon).
Bahasa Palembang terdiri dari dua tingkatan, pertama merupakan bahasa
sehari-hari yang digunakan hampir oleh setiap orang di kota ini atau disebut
juga bahasa pasaran. Kedua, bahasa halus (Bebaso) yang digunakan oleh
kalangan terbatas, (Bahasa resmi Kesultanan). Biasanya dituturkan oleh dan
untuk orang-orang yang dihormati atau yang usianya lebih tua. Seperti dipakai
oleh anak kepada orang tua, menantu kepada mertua, murid kepada guru,
atau antar penutur yang seumur dengan maksud untuk saling menghormati,
karena Bebaso artinya berbahasa sopan dan halus.
AGAMA DI SUMATERA SELATAN

 - Agama Islam 94.30% Kristen Protestan 1.96% Buddha 1.76% Katolik 1.11%
Hindu 0.87%
 ISLAM lebih dominan di Sumatra SELATAN
 Sekian terimakasih