You are on page 1of 23

LAPORAN KASUS

ASMA BRONKHIAL DERAJAT


RINGAN
Pembimbing :dr. Elvi Roza, M.Kes

OLEH :
Eldi Novriandi
G1A217024

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS PAAL X
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JAMBI
IDENTITAS PASIEN

 Nama/Jenis Kelamin/Umur : Tn. A/Laki-laki/19 tahun


 Pekerjaan/Pendidikan : Pelajar
 Alamat : RT.36 KAB

Latar belakang social ekonomi-demografi-lingkungan keluarga


 Status perkawinan : Belum menikah
 Jumlah anak :-
 Status ekonomi keluarga : Keadaan sosial ekonomi cukup
Kondisi Rumah dan
lingkungan
ANAMNESA

 Keluhan utama : Sesak nafas sejak 1 hari sebelum datang ke Puskesmas

Perjalanan penyakit sekarang


 Pasien datang berobat ke Puskesmas dengan keluhan sesak nafas sejak 1
hari yang lalu. Pasien mengeluh sesak nafas setelah mengalami batuk.
Pasien mengaku sesak selalu datang apabila pasien mengalami batuk,
terpapar oleh asap rokok, debu, dan cuaca yang dingin. Sesak nafas
karena beraktifitas disangkal. Sesak nafas disertai dengan bunyi “ngik-
ngik” dan muncul hilang timbul.
 Pasien juga mengaku mengalami batuk sejak ± 3 hari yang lalu, batuk
berdahak, warna dahak putih kekuningan, dahak tidak berlapis, darah (-).
Pasien juga mengaku tenggorokan terasa gatal. Keringat pada malam hari
(-), penurunan berat badan (-), demam (-), sakit kepala (-), mual dan
muntah (-), nafsu makan biasa. BAK dan BAB tidak ada keluhan.
ANAMNESA

 Pasien sudah mengalami keluhan sesak nafas sejak dari


kecil sekitar usia 10 tahun. Pasien mengaku dalam 1 bulan
kadang tidak pernah timbul sesak, sehingga pasien tidak
rutin berobat dan tidak mempunyai persediaan obat asma
di rumah dan keluhan dirasakan baru muncul sekarang
lagi.
Riwayat penyakit dahulu atau keluarga

Riwayat Penyakit Dahulu :


 Pasien sudah menderita penyakit Asma sejak

usia 10 tahun
 Riwayat alergi terhadap debu

 Hipertensi dan diabetes melitus disangkal.

Riwayat penyakit Keluarga :


 Riwayat asma (+) ibu kandung pasien

 
Riwayat makan, alergi,
perilaku dan kebiasaan.
 Pasien memiliki alergi terhadap makanan
seperti olahan udang.
 Pasien sedang tidak mengkonsumsi obat-
obatan rutin.
 Pasien kesekolah menggunakan motor,
kadang jarang menggunakan helm dan
masker.
 Pasien mengaku tidak merokok, tetapi
diakui teman dekat pasien yang merokok.
PEMERIKSAAN FISIK

 Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


 Kesadaran : Compos mentis
 Tekanan Darah :110/70 mmHg
 Nadi: 90x/menit
 Pernafasan : 20x/menit, reguler, tipe abdominothorakal
 Suhu : 36,5°C
 Berat badan : 46 kg
 Tinggi badan : 160 cm
 Kepala : Normocephal
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), skelera ikterik (-/-), pupil
bulat, isokor, diameter 3mm, refleks cahaya (+/+)
 THT : Tidak ada kelainan
 Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tyroid (-)
PULMO COR ABDOMEN

Inspeksi : Inspeksi : Ictus Inspeksi :


Pergerakan dinding cordis terlihat Datar, sikatriks (-)
dada simetris kiri dan
kanan, retraksi (-)
Palpasi : Ictus cordis
Palpasi : teraba Palpasi : Supel, nyeri
Stemfremitus sama tekan (+)
antara kiri dan kanan
Perkusi : Batas
Perkusi : Sonor jantung dalam batas Perkusi :
normal Timpani

Auskultasi : Auskultasi : BJ
vesikuler +/+, I/II Reguler, murmur Auskultasi :
wheezing +/+ saat (-), gallop (-) Bising usus (+)
ekspirasi, rhonki -/- normal
Pemeriksaan
Laboratorium: (-)
 Usulan Pemeriksaan Penunjang
 Foto Ro thoraks
 Uji faal paru (spirometri)
 Pemeriksaan darah eosinophil dan uji
tuberculin
 Pemeriksaan IgE
DIAGNOSIS KERJA

 Asma Bronkial Derajat Ringan.


 DD
 Bronkitis kronis
 Emfisema paru
Manajeme
n
 Promotif
 Menjelaskan kepada pasien dan
keluarganya tentang cara menghindari
faktor pencetus
 Menjelaskan kepada pasien tentang
penyakit dan penatalaksanaan penyakit
apabila dalam serangan.
Preventif
 Hindari faktor pencetus, seperti cuaca dingin
(pakai jaket), makanan, asap rokok, dll.
 Menjaga kebersihan lingkungan rumah.
 Tingkatkan daya tahan tubuh, dengan makan
makanan bergizi
 Jika batuk segera berobat sehingga tidak
menyebabkan asma
Kuratif
Non farmakologis
 Posisikan badan setengah duduk atau posisi
nyaman untuk mengurangi sesak.
 Bernafas di uap panas, atur pola nafas dengan
tenang
 Minum air hangat
Farmakologis
 Salbutamol tablet 2 mg (3x1)

 GG tablet 100 mg (3x1)

 Vitamin C tablet (3x1)


PENGOBATAN TRADISIONAL
 Timi: Anak lebih besar atau sama
dengan 1 tahun dan dewasa: 2 x 1
sendok makan (250 mg ekstrak cair).
Rehabilitatif

 Minum obat sesuai anjuran.


 Jika serangan asma semakin bertambah
berat, maka segera konsulkan ke
puskesmas atau RS terdekat
Hubungan diagnosis dengan keadaan
rumah dan lingkungan sekitar

 Pasien tinggal bersama keluarga, kedua


orang tua dan satu oragn adik di sebuah
rumah beton, dengan atap seng, dinding
dan lantai keramik. Rumah pasien terdiri
dari 2 kamar tidur, 1 dapur, dan 1 kamar
mandi. Pencahayaan dan ventilasi
dirumah pasien cukup.
 Dari kondisi rumah disini tidak teradapat
hubungan antara diagnosis dengan
kondisi rumah.
Hubungan diagnosis dengan keadaan
keluarga dan hubungan keluarga

 Hubungan dalam keluarga baik, pasien


mengatakan sedang tidak ada masalah dalam
keluarga yang menyebabkan pasien merasa
stress. Pada asma faktor pencetus atau faktor
yang harus dikontrol juga adalah faktor emosi.
 Namun, pada pasien ini hubungan keluarga
harmonis Di dalam hubungan diagnosis dan
aspek psikologis dikeluarga tidak ada
hubungannya dengan penyakit pasien, karena
didalam keluarga pasien hubungan pasien
dengan keluarga baik.
Hubungan diagnosa dengan perilaku
kesehatan dalam keluarga dan lingkungan
sekitar
 Pasien sering bermai dengan teman temannya yang
merokok, sehingga pasien kategori perokok pasif.
 Pasien juga mengaku jarang membersihkan debu yang
menempel pada jendela ataupun perabotan rumah
lainnya.
 Pasien sering mengendarai motor kesekolah tanpa
menggunakan helm dan masker yang mana jalan sekitar
rumah pasien itu sangant bederdebu.
 Serangan asma timbul akibat adanya faktor pencetus.
Pada pasien ini yang dapat disimpulkan sebagai faktor
pencetus asmanya adalah banyaknya debu dan asap
rokok disekitar linggkungan pasien.
Analisis kemungkinan faktor resiko atau etiologi
penyakit pada pasien

 →host factor dan faktor lingkungan


 Faktor penjamu → genetik
 Faktor lingkungan → allergen, sensitisasi,
lingkungan kerja, asap rokok, polusi
udara, infeksi pernapasan (virus), status
sosioekonomi.
 Pada kasus ini → faktor lingkungan
sekitar
 Menyadari faktor pencetusnya → dapat
menghindari faktor pencetus, seperti
cuaca dingin (dengan menggunakan
jaket), makanan, asap rokok, dll,
menjaga kebersihan lingkungan rumah,
 meningkatkan daya tahan tubuh
 rajin kontrol → mewaspadai serangan
asma.
Edukasi
 Menjelaskan kepada keluarga tentang apa saja faktor
pencetus asma dan menghindari faktor pencetus tersebut
 Kontrol secara teratur untuk memantau perkembangan
penyakit, dan segera ke dokter jika terjadi serangan asma
berikutnya
 Minum obat sesuai anjuran dokter
 Meningkatkan daya tahan tubuh dengan istirahat teratur dan
makan-makanan bergizi
 Menjaga kebersihan di dalam rumah dan sekitar lingkungan
rumah
 menggunakan masker dan helm saat bermotor.
 Mengedukasi teman pasien untuk berhenti merokok atau jika
tetap merokok hindari kontak dengan asap rokok tersebut.
Terima kasih…