You are on page 1of 99

FISIKA DASAR II

MEDAN MAGNET
A. Gaya dan Medan Magnet

Fluks magnet ()


= garis-2 gaya magnet  Arah garis gaya magnet dari utara ke selatan
 Garis gaya magnet tidak berpotongan satu dengan lain
 Arah medan magnet (B) pada suatu titik pada garis
gaya magnet = arah garis singgung di titik tersebut
Fluks magnet Arah mm  luasan A Arah mm membentuk  thd A

Secara matematis besar fluks magnet dinyatakan dalam :

Satuan :
MKS : - Fluks magnet () : Weber (Wb)
- Induksi magnet (B) = Wb/m2 = Tesla (T)
CGS : - Fluks magnet () : Maxwell (M)
- Induksi magnet (B) = Gauss (1T = 104 Gauss
A.1. ARAH GAYA MAGNET

Muatan yang bergerak dalam mm Aturan tangan kanan-1

Gaya magnet (N)


Medan magnet (T)

Kecepatan (m/s)

Besar Gaya Magnet :


Aturan tangan kanan-2
F =qvxB
atau
F = q.v.B.sin 
Jika V dan B saling , maka :

F = q.v.B
Gaya pada kawat yang dialiri arus I

Hukum Coulumb pada medan magnet :

F = gaya tarik menarik/gaya tolak menolak dalam N.


R = jarak dalam meter.
m1 dan m2 kuat kutub magnet dalam Ampere-meter.
4. / o = 107 Weber / A.m
Jika selain ada medan magnet, juga medan listrik, maka gaya yang dialami partikel
bermuatan dinyatakan dalam :
Gaya Lorentz
F = Fcoul + Fmag = q.E + q.v x B
F = q (E + v x B) atau F = q.v x B = q.v.B.sin
Aplikasi Gaya Lorentz

Jika F, v dan B saling tegak lurus, maka q.v.b = mv2/R


R = m.v / q.B
Untuk partikel dengan kecepatan v yang sama, jari-jari lintasan ditentukan oleh
perbandingan massa dan muatan, seperti gambar berikut :

Jika arah v tidak  dengan arah Bo, maka :


F = q.v x Bo  v = vox.i + voy.j + voz.k
F = q.(vox.i + voy.j + voz.k) x (Bo.k)
F = q. Bo (voy.i - vox.j)
a = F/m = q. Bo (voy.i - vox.j) /m
Kecepatan muatan setiap saat dinyatakan dalam :

Posisi muatan setiap saat dinyatakan dalam :

Gerak muatan dalam


ruang 3 demensi
Dalam bentuk Helik
Partikel bermuatan bergerak dalam medan magnet

 Sebuah partikel positif bermuatan q bergerak


dalam medan magnet homogen B :
 Partikel bergerak melingkar :
 Gaya magnetik = gaya centripetal
FB = mv2/r

r = mv / (q B)
FB = q v B atau

m/q = B r / v
Dengan :
= v/r = qB/m  ω = frekuensi anguler = 2..f = 2..1/T
T = 2r/v = 2m/(qB)
Partikel bergerak dalam medan listrik dan medan magnet

F1

F2

Partikel akan mengalami gaya magnet keatas : F1 = q V x B = q.V.B.sin 


Partikel akan mengalami gaya listrik kebawah : F2 = q E,
Jika setimbang :
F1 = F2 V=E/B
A.2. GAYA MAGNET PADA MUATAN BERGERAK

Jika sebuah elemen yang panjangnya


yang arahnya searah dengan arah
arus I dan muatan penghantar dq
Bergerak dengan kecepatan dv,
maka :

dl = 2..r

atau

F = I.l.B.sin 
Gaya Magnet pada potongan kawat :

Momen Torsi (Torka) pada Loop Arus:


Analogi Besaran Listrik dan besaran Magnet

No Besaran Listrik Besaran Magnet


1 V = tegangan = I.R = volt V =  =  = I.N = Ampere turn
2 I = arus = ampere  = fluksi = Weber / m2
3 J = rapat arus = Amp/m2 B = rapat grs.,gy.magnet = Tesla
4 I = V/R = ampere  =  / Rm = Weber
5 E = medan listrik = V / L H =  / L = amper turn / m
= Volt/m
A.3. HUKUM BIOT SAVART
Hubungan antara besarnya arus listrik dan medan magnet di nyatakan oleh
Biot Savart, yang kemudian dikenal dengan Hukum Biot Savart.

dB = k.I.dl x ř / r2
atau
k = 10-7 Weber / Amp.m

Hukum Ampere

dB =

Besar induksi magnet pada suatu titik yang ditimbulkan oleh penghantar
berarus listrik adalah :
 Sebanding dengan arus listrik
 Sebanding dengan panjang elemen kawat penghantar
 Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara titik tsb thd
elemen kawat
 Sebanding dengan sinus sudut antara arus dengan garis
penghubung elemen kawat ke titik yang bersangkutan
A.4. HUKUM AMPERE
Jika kita menggenggam kawat dengan tangan kanan sedemikian, sehingga ibu
jari menunjukkan ke arah arus listrik, maka lipatan ke empat jari lainnya
menyatakan arah putaran garis-garis gaya magnet, seperti gambar berikut :

Lintasan Ampere = loop


Keterangan Gambar :
 Tanda cross (X) = arah arus listrik meninggalkan kita
 Tanda dot ( ) = arah arus listrik menuju kita
 Arah B (medan magnet) = arah garis singgung dari lintasan fluksi
Secara matematis dinyatakan dalam persamaan :

. Induction Magnet Around dissipation Straight streamy

By inserting equation (2) will be obtained:

In vector form, equation (5) can be written as:


Thus, the total magnetic field at any point caused by the electric current
carrying wire is:

From Figure it is known that:

by substituting dl , r , and sin in equation (7), will be obtained:


If the wire length 2 l << a, we consider the wire length is infinite. So that
equation (8) becomes:

with:
B = magnetic field strength ( Wb / m 2 = tesla)
a = distance of the point of the conductor (m)
I = strong electric current (A)
μ 0 = permeability of vacuum

Induction Magnetic Circular Brought dissipation have current


To determine the magnetic induction
at the point P is at a distance x from
the center of the circle, can be done
by using the Biot-Savart Law.
Figures show that r is perpendicular
to dl or θ = 90 ° , so sin θ = 1.
From the Biot-Savart equation, then:
Because, a 2 + x 2 = r 2 , then:

From the picture it is known that:

Meanwhile, the vector dB is perpendicular to the x-axis is:


Due to the nature of the symmetry, the component perpendicular to the x axis
cancel each other out, so the only component that is parallel to the x-axis.
Obtained:

Values ​of a, I, and x is a constant, because it has the same value on each
element of the flow. So:
Since the conductor of a circle, the circumference of a circle ∫ dl = 2..a , states,
with his fingers is a, by substituting the above equation in equation (14) will be
obtained:

Magnetic induction would be worth a maximum when x = 0 or point located in


the center of the circle, then it will apply:

Or
B = o.I / 2.a

With :
B x = magnetic induction ( Wb / m 2 )
I = strong electric current (A)
a = radius of the circle (m)
N = number of windings
Solenoid Magnetic Induction on Axis
Induksi Magnet B yang melingkupi solenoida

Magnetic Induction on axis toroidal magnets


B.1. GGL Gerak (Motional Electro Motive Force = EMF)

GGL-Gerak
Terjadinya Induksi Elektromagnetik
GGL - Induksi

Faktor-Faktor yang
Menentukan Besar GGL
1) banyaknya lilitan kumparan
2) kecepatan keluar-masuk
magnet dari dan keluar
kumparan
3) kuat magnet batang yang
digunakan
Apabila sebatang penghantar
digerak-gerakkan sedemikian rupa
dalam medan magnet sehingga
memotong garis-garis gaya magnet,
maka pada penghantar tersebut
akan terbentuk GGL induksi.

Arah gerak GGL induksi yang


terjadi ditunjukkan dengan
aturan tangan kanan sebagai
berikut (perhatikan gambar) :
B.2. HUKUM FARADY
Suatu loop yang dialiri listrik dari luar diletakkan dalam medan magnet
seperti pada gambar (a), maka loop mengalami momen gaya imbas
(induced). Sebaliknya pada gambar (b), jika loop tanpa aliran listrik
diletakkan dalam medan magnet, kemudian diputar, maka akan timbul
arus listrik imbas (Iinduced)

(a) (b)
 Faraday yang menunjukkan bahwa ini adalah fenomena alam yang
selalu terjadi akibat perubahan fluks magnetik yang menembus suatu
luas loop tertentu. Fenomena ini disebut induksi elektromagnetik.

beliau menyatakan bahwa Gaya Gerak Listrik, , yang terjadi.


 Besarnya GGL induksi yang terjadi dalam suatu penghantar atau
rangkaian berbanding lurus dengan kecepatan perubahan flux
magnet yang dilingkupinya. Secara matematis dituliskan

 = 2- 1
 = - N 
t  t = t2 - t1

Dimana :

 = B.A  = B.A sin

N = jumlah belitan
Metode I :
Perubahan fluksi magnetik akan menimbulkan gaya gerak listrik (GGL=  ),
atau dinyatakan dalam E dan secara matematis dinyatakan dalam :

d
 = -  B cos  dA
dt

Tanda negatif (-) menandakan bahwa arah Emf induksi seperti arus yang
dihasilkannya berlawanan dengan perubahhan fluksi

Persamaan berlaku pada koil yang tidak berubah dan fluksi yang
berubah thd waktu, tidak ada gerakan yang terjadi (transformator)
Metode 2
Jika panjang batang = l = L , maka GGL antara
kedua ujung batang konduktor dinyatakan dalam

 =  E•ds =  E.ds.cos 
 = B.L.v

Fq = Fkond

Jika batang digerakkan ke kanan dengan


laju kecepatan = v, maka luas batang
dalam waktu dt adalah : dA = (v.dt).L.
perubahan fluksi yang terjadi adalah :
Persamaan berlaku jika terjadi perubahan
fluksi , seperti konduktor yang digerakkan
pada medan stationer yang konstan

Dimana :

v = ds / dt  ds = v.dt (ds = jarak)


dA = ds.L = v.L.dt

Atau
Fluksi untuk Loop :
GGL yang terjadi :

Perubahan fluks dapat disebabkan oleh tiga hal :

• Koil tidak berubah terhadap fluks dan magnitudo fluks berubah


terhadap waqktu.
• Fluks tidak berubah terhadap waktu dan koil bergerak pada fluks
tersebut.
• Kedua perubahan yang disebutkan diatas muncul bersamaan,
artinya koil bergerak dalam waktu yang terus berjalan

Arus listrik Medan magnet


B.3. HUKUM LENZ
Arus induksi yang timbul arahnya sedemikian, sehingga menimbulkan medan
magnet induksi yang melawan arah perubahan medan magnet.

Arah mm kanan  arah fluksi


semakin kekanan (smakin besar)

Arah mm kekiri  arah fluksi


semakin kekiri (smakin turun)
atau

 Arah efek apapun dari induksi magnetik yang terjadi akan


melawan penyebab efek tersebut.

 Perhatikan bahwa arus Iinduced selalu menghasilkan Binduced yang


melawan fluks magnetik penyebab (warna hijau) dan arah v.
B.4. EFEK HALL
Gambar dibawah menunjukkan dua lempengan yang mengalirkan arus I yang
mengalirkan kekanan, karena sisi kiri lempengan dihubungkan dengan terminal
Positip batere dan sisi kanan dihubungkan dengan ke terminal negatip batere.
Lempengan berada dalam medan magnet yang diarahkan kedalam  arus tsb
Berarah kekanan dengan gaya magnetik pada partikel dinyatakan dalam :

(a) (b)

Gambar : Efek Hall


a) Partikel positip bergerak kekanan
b) Partikel negatip bergerak kekiri
Arah gaya F mengarah keatas  muatan positip ke atas dan muatan negatip
ke bawah. Gaya magnetik diimbangi oleh gaya elektrostatik q.E (E = medan listrik
Akibat pemisahan muatan tersebut), sehingga diperoleh :

Jika lebar lempengan = w dan beda potensial = Vw, maka besar tegangan Hall
adalah VH dinyatakan dalam :
VH = Vw = vd x Bw
Atau :
Gaya yang diberikan oleh medan magnet kepada kawat berarus dipindahkan
ke kawat oleh gaya yang mengikat elektron pada kawat di permukaan.
Pembawa muatan juga mengalami gaya magnetik ketika sedang menyalurkan
arus berada dalam medan magnet luar, pembawa muatan dipercepat ke arah
salah satu sisi kawat. Hal ini menghasilkan pemisahan muatan dalam kawat
yang disebut Efek Hall
C. INDUKSI DIRI (SELF INDUCTANCE)
Berdasarkan Hk.Ampere dan Hk.Biot Savart, menyatakan bahwa disekitar
panghantar yang berarus listrik disekitarnya akan timbul medan magnet:

I
Karena I
Atau :
L = induksi diri = induktansi = Henry (H)

Dan besar EMF induksi :


L = induksi diri atau induktansi  menimbulkan GGL.
Komponen yang mempunyai induktansi tersebut
dinamakan INDUKTOR, dan mempunyai bentuk
seperti pada Gambar.1.

Induktor dapat menjadi media penyimpanan energi


magnetik / energi listrik, secara matematik besar
tegangan pada jepitan a-b dinyatakan dalam :

dan
C.1. Hubungan Induktor :

Seri :
L1 L2 L3

L = L1 + L2 + L3

L = Leq.
Paralel :

L1 L2 L3
1/L = 1/L1 + 1/L2 + 1/L3
L = Leq.

Energi pada Induktor


W = U = ½. L.I2
C.2. Rangkaian RL
Jika arus = positip, L naik dan arah arus Iind berlawanan dengan arus I, demikian sebaliknya.

Berdasarkan Hk.Kirchoff :
E – I.R – El = 0
E – I.R – L.dI/dt = 0
Mula-mula saklar S1 pada kondisi tertutup. Setelah beberapa detik saklar S1 = open dan
saklar S2 closed, maka :
C.3. RANGKAIAN OSILASI - LC

C.4. RANGKAIAN RLC SERI


Contoh :

1. Sebuah kumparan terdiri dari 300 lilitan , luas penampangnya


9 cm2 dan panjangnya 25 cm. Jika kumparan diisi bahan dengan
permeabilitas relatif 500.
Hitunglah :
a. Induktansi diri kumparan
b. GGL induksi diri dalam kumparan jika dialiri arus 10 A yang
diputus-putus dalam selang waktu 0,002 s
c. Energi yang tersimpan
2. Suatu kumparan kawat terdiri dari 500 lilitan dengan diameter
10 cm. Kumparan ini diletakkan dalam medan magnetik homogen
yang berubah-ubah dari 0,2 menjadi 0,6 wb /m2 dalam waktu 5
milisekon.
Hitunglah : GGL imbas yang terjadi dalam kumparan ?
C.5. Transformator
Kumparan primer

Inti besi
Sumber tegangan AC

Kumparan selunder

Np = N1 = jumlah belitan primer


Np Ns Ns = N2 = jumlah belitan sekunder
Vp Vp = V1 = tegangan sumber
Vs (tegangan pada sisi primer)
Vs = V2 = tegangan beban
(tegangan sisi sekunder)
Jenis Transformator

1. Transformator step up :
 Fungsi : penaik tegangan Np Ns
 Ns > Np Vp Vs
 Vs > Vp
 Is < Ip

2. Transformator step down :


 Fungsi : penurun tegangan
Np Ns
 Ns < Np Vp Vs
 Vs < Vp
 Is > Ip
Rangkaian Pengganti Transformator

Rasio Jumlah belitan

Dimana :
D. INDUKSI GANDENG (MUTUAL INDUCTANCE)

Loop.1 dialiri arus I1  pada loop.2 akan terimbas


 = 1 + 2
Loop.2 dialiri arus I2  pada loop 1 akan terimbas

dan
M21 = N2.21 / I1
M = M21
= M12
M12 = N1.12 / I2

Induktansi bersama
(mutual inductance /
Sehingga : koefisien kopling)
Mutual induktance = induktansi bersama = induktansi gandeng = M, dalam
satuan :
Mutual terjadi diantara dua sirkit karena adanya perubahan arus (di salah satu
sirkit) , sehingga terjadi drop tegangan pada sirkit yang lain.

Dengan :
k = koefisien kopling yang
besarnya :
Total Energi (W) pada induktor L1 dan L2 dinyatakan dalam :

Jika arahmasing-2 arus yang


menuju terminal = sama

Jika arahmasing-2 arus yang


menuju terminal ≠ sama

Mutual inductance antara dua coil kosentris yang dialiri arus I , dimana R1 >> R2

M = N1.21 / I1 = B1.A2

 B1 = o. I1 / 2.R1 dan


A2 =  (R2)2

M = N1. o  (R2)2 / 2.R1

 M=
Dot ( ) Notasi pada Koefisien Kopling (Mutual Inductance) :

 Titik (dot) tidak mempunyai


fungsi penting (secara khusus)
dalam suatu sistem.
 Titik (dot) menunjukkan
tanda / arah belitan dimana
arus mengalir pada belitan
Yang mana :
E. ARUS BOLAK BALIK (ALTERNATING CURRENT = AC)

E1. Karakteristik gelombang bolak-balik (AC Wave)

 The Period, (T) is the length of time in seconds that the waveform takes to repeat it
self from start to finish. This can also be called the Periodic Time of the waveform
for sine waves, or the Pulse Width for square waves.
 The Frequency, (ƒ) is the number of times the waveform repeats itself within a one
second time period. Frequency is the reciprocal of the time period, ( ƒ = 1/T ) with
the unit of frequency being the Hertz, (Hz).
 The Amplitude (A) is the magnitude or intensity of the signal waveform measured
in volts or amps.

v (t) = VM sin (w t) atau v (t) = VM sin (w t + )


w = 2f (rad/det)  f = 1/T (Herzt/Hz)
VM = amplitudo
E.2. Bentuk gelombang bolak-balik (AC Wave)

Gambar Gelombang arus/tegangan bolak-balik berikut dapat diperoleh dengan :

V = Vm sin t
i = im sin t
Secara lengkap ditunjukkan pada gambar berikut, baik untuk tegangan maupun
arus bolak-balik untuk tiga fasa

V = 3.Vm sin t V V
i= =
i = 3.im sin t Z R 2  ( X L - X C )2
1 1
XC = - j
.C
=-j
2f .C
dan X L = j..L = j.2f .L

Hubungan antara frekuensi, kecepatan putar dan tegangan yang timbul


pada generator arus bolak balik adalah :

dimana :
 P = jumlah kutub magnet
 N = jumlah putaran per menit
 Kc = jarak antara kumparan (pitch factor)
 Kd = faktor distribusi
  = jumlah fluksi per kutub
 f = frekuensi (Hz)
 E = tegangan / Emf / GGL dalam volt
NILAI MAKS, RMS & AVG PADA SATU FASA AC

Maks

RMS

Avg

A
T

Mins
Dalam sistem bolak balik dikenal dengan empat nilai, yaitu :
a. Nilai sesaat (Instantaneus value)
 nilai sesaat ketika berputar pada lokasi tertentu dalam fungsi waktu
b. Nilai puncak (peak value)
 nilai maksimum (nilai puncak), terdiri dari nilai puncak positif (+)
dan nilai puncak negatif (-) Imax = Im dan Emax = Em
c. Nilai rata-rata (averated value)
 nilai rata-rata dari gelombang bolak/balik yang dihitung secara
arthimaticle dalam satu cycle ( satu periode waktu)
Iav = 2/pi.Im = 0,637.Im Imax = 1.414 X Ieff

Eav = 2/pi.Em = 0,637.Em Emax = 1.414 X Eeff

d. Nilai efektip (root meen square value / rms value)


 nilai yang digunakan atau nilai yang sebenarnya

dan
E.3. Macam-macam bentuk gelombang bolak - balik
E.4. Hubungan Rangkaian Arus bolak – balik

4.1. Hubungan Bintang (Y)

Tegangan saluran

VAB = VBC = VCA = VLL


Tegangan fasa

Van = Vbn = Vcn = VLN = Vp

Karena :

VLL ≠ Vp
VLL = 3V p

Arus fasa :
IAn = IAn = ICn = ILN = IP
Arus saluran : ILL = Ip = ILN
IA = IB = IC = ILL
4.2. Hubungan Segitiga (∆)
a
IA Tegangan saluran :
VAB = VBC = VCA = = VLL

IAC IAB Tegangan fasa :


Vab = Vbc = Vca = = VLN = Vp

ICB VLL = Vp =VLN


IB
c
IC b
Arus fasa :
Iab = Iac = ca = ILN = IP

Arus saluran :
IA = IB = IC = = ILL
Karena :

ILL ≠ Ip I LL = 3I p
4.3. Hubungan antara Sumber dan Beban
4.4. Bentuk gelombang tegangan/arus bolak – balik untuk komponen R,L dan C
ω
V,I IR
VR
V sefasa terhadap I
ωt

ωt

V,I
VL
V leading/mendahului
ωt terhadap I

ωt
V,I
IL

IC VC
V lagging/terbelakang
terhadap I
ωt
ωt
4.1. Rangkaian Resistive (R)
VR = Vm sin.ωt

IR = {(Vm sin.ωt)} 1/R

4.2. Rangkaian Kapasitive (C)


VC = Vm sin.ωt

q = C.Vm sin.ωt
ω = 2.pi.f
IC = ω.C.Vm cos. ωt
f = 1/T Hz
4.3. Rangkaian Inductive (L)

VL = Vm sin.ωt

di = Vm.(sin.ωt) dt (1/L)

iL = - (Vm cos. ωt) / ω.L


4.4 Rangkaian RLC seri
VL,m
IR,m

C
VR,m

VC,m
V = Vm sin wt
I = Im sin (wt - )
V = VR + VL + VC
Vm = Im.|Z|  |Z| =  (R)2 + (XL – XC)2 dengan Z = R + j (XL – XC)
tg. = (XL – XC) / R   = arc.tg. ( = sudut fasa)
XL = j.wL
dan w = 2.pi.f
XC = 1 / j.w.C = - j / w.C
5. Daya listrik bolak balik
Im V
5.1. Daya rata-rata (P)
Misal tegangan dan arus pada terminal beban dinyatakan
dalam :
 I Re

Komponen searah Komponen bolak balik

Besar daya rata-rata P = Prr = Pav = P reel = P nyata dinyatakan dalam :


5.2. Daya reaktip (Q)
Berdasarkan persamaan berikut, akan diperoleh daya reaktip Q

daya aktip = P daya reaktip = Q

W = P.T
5.3. Daya semu (S)
Daya semu merupakan daya komplek dengan menggunakan fasor rms (efektip) dan
dinyatakan dalam :
V = tegangan (V)
I* = arus konjuget (A)

Daya semu merupakan perkalian fasor tegangan dan konjuget fasor dari arus,
sehingga :

P Q

S = P + j.Q
6. Segitiga Daya Listrik

S=P+jQ
|S| = Vrms. Irms

Dengan :

S = daya semu dalam Volt Ampere = VA

P = daya reel (daya nyata) dalam watt = W

Q = daya reaktif dalam volt ampere reaktif


(VAR)
 = sudut daya mempunyai rentang antara
- 90 o s/d + 90 o
Irms, Vrms = arus/tegangan efektip
6.1. Fasor tegangan, arus dan segitiga daya :
6.2. Hubungan Daya komplek dan Beban :

Impedansi beban ZB merupakan perbandingan antara tegangan dan arus beban,


sehinngga :

ZB = RB + j XB

Nilai P merupakan daya rata-rata dan Q merupakan daya reaktip,


secara umum dinyatakan dalam :

P = R.I2 rms Q = X. I2rms


F. GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK (GEM)
Gelombang elektromagnetik merupakan rambatan perubahan medan
listrik dan medan magnet.
Ciri-ciri :
 Vektor perubahan medan listrik  vektor perubahan medan magnet
 Merupakan gelombang transversal
 GEM dapat merambat tanpa medium
 Tidak mempunyai muatan listrik, sehingga beergerak lurus dalam
medan listrik maupun dalam medan magnet
 Menunjukkan gejala pantulan (refleksi), pembiasan (refraksi),
perpaduan (interferensi), pelenturan (defraksi) dan pengutupan
(polarisasi)
 Diserap oleh konduktor dan diteruskan oleh isolator
F.1. Sumber GEM
F2. Proses Radiasi
F.3. Bentuk GEM
Arah rambatan
E E E E

B B B B

Ilustrasi perambatan gem


F.4. Persamaan umum GEM

Kecepatan gelombang elektromagnetik sama dengan kecepatan cahaya yang


dirumuskan :
1
c=
 o .o
Cepat rambat gelombang elektromagnetik dinyatakan dengan panjang
gelombang dan frekwensi :
C = V = kecepatan di ruang bebas
c = .f = cepat rambat cahaya (m/det)

Dimana :
o = permitivitas ruang hampa = 8.85. 10-12 C2/Nm2
o = perbeabilitas ruang hampa = 12.56. 10-7 Wb/A.m
C = cepat rambat cahaya = 3. 108 m/s
 = panjang gelombang (m)
f = frekwensi (Hz)
F.5. Dasar Persamaan Maxwell

JC.Maxwell merupakan penemu pertama yang menggabungkan medan


listrik dan medan magnet secara matematis, dikenal dengan “ Persamaan
Maxwell.” Persamaan Maxwell merupakan pengembangan Orsted,
Hukum Biot Savart, Hk.Faraday , Hk.Ampere,Hukum Gauss.
Berikut persamaan dasar kemagnetan :
Persamaan GEM
1. GEM pada ruang hampa :

Dimana :
E = vektor medan listrik
B = vektor medan magnet
o = permitivitas listrik di udara = 8,85.10-12 C2/N.m2
o = permeabilitas magnet di udara = 4..10-7 T.m/A
Dengan operasi Curl, maka dari persamaan berikut akan mendapatkan nilai
medan listrik E dan medan magnet B

atau

 Pada media vacum dan non


konduktor  tidak ada beda fasa
antara E dan B, maka :

atau
 Hubungan amplitudo persamaan E
dan B :
2. GEM pada medium non-konduktor:

GEM dapat merambat dalam medium non konduktor,bentuk


persamaan :

Jika medium bersifat linier, maka :

Dengan :
D = medan listrik pergeseran
H = kuat medan dalam medium
r = konstanta permitivitas dalam mdium
 = permeabilitas (tidak mengalami variasi srtiap
titik dalam medium)

:
Sehingga persamaan menjadi

atau

3. GEM pada medium konduktor:

Dengan :
 =konstanta konduktansi
Dari persamaan diatas akan diperoleh medan listrik E dan medan magnet B

seperti berikut :

dengan K = konstanta gelombang  K = bilangan komplek

maka :
3.4. Spektrum GEM

Spektrum adalah rentang semua radiasi elektromagnetik yang mungkin dan yang
dapat diukur dari frekuensi, panjang gelombang dan energi photon yang
terkandung, seperti yang ditunjuk pada tabel berikut :
Tabel : Panjang gelombang dan sinar tampak
No Spektrum warna Panjang gelombang (m) Frek
(Hz)ensi

1 Merah 620 – 780 4,82 – 4,60

2 Jingga 590 – 620 5,03 – 4,82

3 Kuning 570 – 597 5,20 – 5,03

4 Hijau 492 – 577 6,10 – 5,20

5 Biru 455 – 495 6,59 – 6,10

6 Ungu 390 – 455 7,69 – 6,59


F.5. Urutan dari Spektrum :
4.1. Gelombang radio  Jangkauan frekuensi cukup luas, memiliki 2 jenis modulasi, yaitu AM
(jangkauan luas) dan FM (jangkauan sempit).

4.2. Gelombang mikro  Digunakan untuk alat-alat elektronik, alat komunikasi, alat
memasak (oven) dan radar.
4.3. Sinar Infra Merah  Dihasilkan oleh molekul dan benda panas, digunakan di bidang
industri, medis dan astronomi (pemotretan bumi & satelit)

4.4. Sinar tampak (cahaya)  Adalah sinar yang dapat membantu penglihatan kita.
Perbedaan frekuensi cahaya menimbulkan spektrum warna cahaya
4.5. Sinar ultraviolet  Dihasilkan dalam atom-atom dan molekul-2 dalam ion listrik
matahari adalah sumber utama sinar ini. Dibidang industri digunakan
untuk proses sterilisasi

4.6. Sinar X  disebut juga sinar Rontgen, sesuai penemunya. Sinar ini dihasilkan
akibat tumbukan elektron berkecepatan tinggi di pemukaan logam.
Dibidang kedokteran digunakan untuk diagnosa dan terapi medis,
sedangkan di bidang industri, siner x digunakan untuk analisis struktur
bahan.
7. Sinar gamma  Merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang
terpendek dan frekuensi tertinggi, dihasilkan dari inti atom yang tidak stabil
ataupun sinar kosmis. Daya tembus sangat besar, mampu menembus
pelat timbal.

F.5 . Energi Gelombang Elektromagnetik (GE)


Hubungan antara kuat medan listrik dan medan magnetik

Em E E y = Em cos (kx - t)


=- =c
Bm B Bx = Bm cos (kx - t)
Dengan :
Em, Bm = nilai max amplitudo medan listrik dan magnetik
c = cepat rambat cahaya
F. 6. Rapat Energi Listrik dan Magnetik

Rapat energi listrik dan magnetik dinyatakan dengan :


Dengan :
ue = 2  0 E
1 2
ue = rapat energi listrik (J/m3)
ε0 = 8,85 x 10-12 C2 N-1m-2
2 E = kuat medan listrik (N/C)
B uB = rapat energi magnetik (J/m3)
uB =
20 B = besar induksi magnetik (Wb/m2)
μ0 = 4π x 10-7 Wb/A
7. Intensitas Gelombang Elektromagnet

Intensitas GEM atau laju energi yg dipindahkan melalui GEM disebut pointing (S).

S =
1   EB Em Bm cos 2 (kx - t )
ExB
0 S= =
0 0
Em Bm
S= Intensitas GEM rata-rata
20
8. HUBUNGAN INTENSITAS GELOMBANG DENGAN ENERGI RATA-RATA

Dengan menggunakan hubungan


Rapat energi kinetik
E
B=
c B2 E 2 / c2
uB = =
20 20
dan E 2  0 0 1
= =  0 E 2 = ue
20 2
Rapat energi total
1
c=
0 0 u = u B  ue = 2u B =
B2
0
Rapat energi total rata-2 :

 Em Bm
u=
20c
9.3. Proses radiasi dari matahari ke bumi
9.4. Proses GEM terhadap telephone
V. DASAR PERSAMAAN MAXWELL
JC.Maxwell merupakan penemu pertama yang menggabungkan medan listrik
dan medan magnet secara matematis, yang dikenal dengan persamaan Maxwell.
Persamaan Maxwell merupakan pengembangan Orsted, Hukum Biot Savart,
Hk.Faraday , Hk.Ampere,Hukum Gauss. Berikut persamaan dasar kemagnetan :
1. Bentuk Persamaan Maxwell:

1.1. Persamaan Maxwell I  Hukum Farady

Jika ada rapat gaya magnet B yang berubah thd waktu dan menenmbus
suatu bidang yang dikelilingi luasan tertutup, maka akan menghasilkan
medan listrik E yang arahnya sesuai dengan arah lintasan tsb (dS)

1.2. Persamaan Mnaxwell II  Hukum Ampere dan Pergeseran Arus (D)

1. Medan magnet hanya dihasilkan rapat arus J


⨐ H•dL =  J• dS = I
2. Medan magnet hanya dihasilkan oleh rapat fluk listrik (D) yang
berubah terhadap waktu
⨐ H•dL = d( D• dS) / dt = Id (us pergeseranar
3. Medan magnet dihasilkan oleh keduanya, baik rapat arus J
maupun rapat fluks listrik D :
⨐ H•dL =  J• dS + d( D• dS) / dt

1.3. Persamaan Mnaxwell III  Hukum Gauss

Jumlah total rapat fluk yang meninggalkan suatu permukaan


tertutup sama dengan jumlah total muatan yang dilingkupi
oleh permukaan tersebut

1.4. Persamaan Mnaxwell IV  Hukum Gaussn medan magnet

1. Tidak ada yang disebut dengan muatan medan magnet sebagi


sumber medan magnet
2. Tidak ada yangdisebut dengan muatan medan magnet sebagai
sumber medan magnet
3. Muatan listrik menimbulkan medan listrik
4. Medan magnet hanya dihasilkan oleh muatan listrik yang berubah
terhadap awktu, atau dihasilkan oleh muatan listrik yang berubah
terhadap waktu (Hk. Ampere)

Keterangan satuan :

 E : Kuat medan listrik (electric field strength), (V/m)


 D : Rapat fluks listrik (electric flux density), (coulombs/m2)
 o : Permitivitas bahan, (Farads/m)
 H : Kuat medan magnet (magnetic field strength), (A/m)
 B : Rapat fluks magnet (magnetic flux density), (Wb/m2)
 µo : Permeabilitas bahan, (Henries/m)
 J : Rapat arus konduksi, (A/m2)
 ρ : Konductivitas bahan, (Siemens/m)
Operator Curl , kecenderungan operasi vektor

Operator devergensi, arah vektor gaya F menunjukkan


Arah fluks sseperti pada gambar. Kalau nilainya positif,
berarti lebih banyak fluks yang masuk, dan sebaliknya.
Kalau nol berarti impas,, pendapatan = pengeluaran

2. Penerapan Persamaan Maxwell:

 Komunikasi Satelit
 Komunikasi Bergerak
 Komunikasi Serat Optik
 RADAR
 Penginderaan jarak jauh
 Permasalahan kompatibilitas EM (EMC Electromagentic Pulse)
 Astronomi