You are on page 1of 25

Estimasi Asam Askorbat Serum (Vitamin C) pada Katarak

terkait Usia (Senilis): Sebuah penelitian Kasus Kontrol

Pembimbing :
Pendahuluan
• Katarak adalah penyebab utama dan
penyebab tersering kebutaan yang dapat
disembuhkan di dunia saat ini.
• Menurut WHO, diperkirakan 180 juta orang
diseluruh dunia mengalami kecacatan secara
visual, dengan 45 juta buta dan 135 juta
gangguan visual lainnya.
Pendahuluan
• Di India, katarak menjadi penyebab utama
kebutaan (63.7%) dengan 12 juta orang beresiko
tinggi dan peningkatan jumlah penderita katarak
sebesar 3.8 juta setiap tahunnya.
• Prevalensi katarak Senilis sebagai presentasi klinis
tersering pada katarak yang didapat, meningkat
sejalan dengan bertambahnya usia, dengan 65%
pada usia 50 hingga 59 tahun dan pada semua
pasien yang berusia lebih dari 80 tahun.
Pendahuluan
• Secara perlahan dengan penuaan normal, juga
berkaitan dengan penyakit genetik, kelainan-kelainan
medis seperti diabetes dan faktor-faktor lain seperti
gizi yang buruk, radiasi, steroid, merokok, alkohol,
trauma pada mata atau operasi mata lainnya.
• Salah satunya bentuk radiasi yang terjadi berupa
paparan yang kontinyu terhadap sinar UV dan
ambien oksigen sebagai resiko tinggi terjadinya
kerusakan foto-oksidatif yang dapat menggangu
aktivitas metabolik rutin normal lensa.
Pendahuluan
• Oleh karena itu, radikal bebas memainkan peran
yang penting dalam oksidasi protein lensa yang
menyebabkan opasifikasi lensa yang menyebabkan
katarak.
• Sehingga mekanisme pertahanan tubuh dengan
antioksidan seperti Glutathione S-transferase (GST),
asam askorbat (vitamin C), vitamin E dll, memainkan
peran yang penting untuk menekan pembentukan
radikal bebas dan meminimalkan kerusakan foto
oksidatif ini pada lensa okular
Pendahuluan
• Vitamin C bertindak sebagai antioksidan fisiologis
yang efektif untuk melindungi terhadap penyakit
dan proses degeneratif yang disebabkan oleh stres
oksidatif
• Vitamin C memiliki aktivitas antioksidan yang lebih
baik secara in vivo dibandingkan enzim antioksidan
lainnya karena keberadaannya di intraseluler dan
ekstraseluler dan bertindak secara sinergis dengan
vitamin E untuk mempertahankan aktivitas
antioksidan glutathione
Pendahuluan
• Terdapat peran penting vitamin C yang kuat
pada lensa, dengan ditemukannya konsentrasi
sebesar sekitar 20-30 kali lipat di lensa atau
aqueous dibandingkan plasma dan bahkan
lebih tinggi di vitreous.
• Penelitian sebelumnya di India melaporkan
bahwa konsentrasi vitamin C lebih tinggi pada
lensa yang normal dibandingkan dengan
katarak matur
Pendahuluan
• Terdapat hubungan yang signifikan antara vitamin C dan
risiko katarak terkait usia dalam penelitian-penelitian di
Amerika, namun penelitian di Eropa dari Spanyol, Swedia
dan Italia menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
signifikan.
• Penelitian kohort lebih lanjut dibutuhkan untuk
mengonfirmasi hubungan antara askorbat serum ini
dengan risiko katarak terkait usia.
• Sehingga, tujuan penelitian kami adalah untuk menilai
status asam askorbat (vitamin C) sebagai antioksidan
dalam terjadinya katarak.
Tujuan
• Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengevaluasi kadar asam askorbat serum
(vitamin C) dalam terjadinya katarak terkait
usia (senilis), suatu penyebab utama kebutaan
yang dapat disembuhkan secara global,
terutama di India
Materi dan Metode
• Ini merupakan penelitian kasus kontrol yang dilakukan di
Departemen biokimia dan Oftalmologi, Fakultas Kedokteran SV
(Govt), dan rumah sakit umum govt SVRR, Tirupati, AP, India
• Pasien diinklusikan pada kelompok usia 45 – 75 tahun dengan
100 pasien dengan diagnosis klinis katarak terkait usia (senilis)
dan 100 pasien normal yang telah disesuaikan usianya tanpa
adanya opasitas lensa apapun. Diagnosis klinis sementara
katarak terkait usia ditetapkan berdasarkan pemeriksaan
oftalmologi klinis
• Pasien dengan riwayat diabetes melitus, hipertensi, penyakit
sistemik, trauma dll dieksklusikan.
Pengumpulan sampel darah
• Sebanyak 10 ml sampel darah puasa ditarik dari vena perifer
terutama dari vena antecubital.
• Untuk pemisahan serum, 5 ml darah dimasukkan kedalam vial
kosong pertama kalinya dan kemudian dibiarkan menggumpal.
• Kemudian darah yang menggumpal ini disentrifugasi pada
3000 rpm selama 5 menit.
• Serum yang telah dipisahkan ini digunakan untuk
memperkirakan vitamin C pada hari yang sama.
• 1 ml darah dimasukkan kedalam vial fluorida untuk
memperkirakan kadar glukosa darah untuk mengeksklusikan
diabetes melitus.
Pengujian asam askorbat: S.T.O May J.o. Turnball, 1979.
Penentuan setelah devitalisasi dengan 2,4 dinitrofenilhidrazine

Prinsip:
• Asam askorbat dioksidasi dengan tembaga untuk membentuk
asam dihidroaskorbat dan asam diketogulorat.
• Produk-produk ini diberikan 2,4 DNP untuk membentuk bis
2,4, dinitrofenilhidrazine.
• Senyawa ini bersamaan dengan dengan H2SO4 menjalani
penyusunan ulang untuk membentuk suatu produk dengan
berkas absorbsi yang diukur pada 520nm.
• Reaksi ini terlihat dalam keberadaan Thiourea untuk mencegah
reaksi pengurangan yang berlebihan dan membantu
menghasilkan zat antara dari kromogen non-asam askorbat.
Pengujian asam askorbat: S.T.O May J.o. Turnball, 1979.
Penentuan setelah devitalisasi dengan 2,4 dinitrofenilhidrazine

Reagen:
1) TCA (asam trikloroasetat) 5% dan 10% pada air
yang didistilasi.
2) 2,4 dinitrofenilhidrazine/thiourea/larutan
tembaga. (tambahkan 0.4 g thiourea, 0.05 g CuSO4
5H2O dan 30 g 2,4 dinitrofenilhidrazine dan jadikan
volume sebanyak 100 ml dengan 9 NH2SO4.
3) 65% H2SO4
Pengujian asam askorbat: S.T.O May J.o. Turnball, 1979.
Penentuan setelah devitalisasi dengan 2,4 dinitrofenilhidrazine

Prosedur:
• 1 ml plasma dan 1 ml es dingin 10 % TCA dicampurkan
dengan baik dan disentrifugasi selama 20 menit pada 3500
rpm.
• 0.5 ml supernatan dan 1 ml DTC diambil dan diinkubasi
selama 3 jam pada 37 derajat centigrade. Untuk
mengonversi ini menjadi produk antara, 0.75 ml es beku
65% H2SO4 ditambahkan.
• Kemudian campur dengan baik dan dinginkan. Produk
akhirnya dibaca dengan 520 nm. Instrumen yang digunakan
adalah Bio-System-BTS 320 Photometer.
Hasil
• Kadar asam askorbat adalah 0.54 ± 0.23 mg/dl
(30.68 ± 13.07 umol/L) pada pasien katarak
senilis dan 0.83 ± 0.35 mg/dl (47.16 ± 19.89
umol/L) pada kontrol dengan perbedaan
statistik diantara kasus dan kontrol yang
menunjukkan penurunan yang signifikan
dalam kadar vitamin c pada serum pasien
katarak yang terkait usia dibandingkan dengan
kelompok kontrol (tabel 1 hingga 3).
Pembahasan
• India melaporkan sebanyak sekitar 20% kebutaan di
dunia dengan katarak sebagai penyebab utamanya.
• Faktor lingkungan, nutrisi, dan faktor genetik
mungkin menjadi faktor yang penting untuk
tingginya angka ini.
• Serta informasi yang terbatas mengenai antioksidan
(terutama vitamin C), yang dianggap memainkan
peran utama dalam melindungi lensa dari stres
oksidatif
Pembahasan
• Banyak penelitian epidemiologi yang dipublikasikan
yang mengetahui hubungan vitamin C dan risiko
katarak, namun, hasilnya bersifat tidak konsisten.
• Untuk kadar askorbat serum dengan risiko katarak
senilis, 10 penelitian dilakukan dengan melibatkan
total sebanyak 7305 kasus katarak, namun
hubungan terbalik antara kadar askorbat serum
dengan risiko katarak dilaporkan hanya pada empat
penelitian.
Pembahasan
• Kesulitan utama dalam penelitian ini untuk
mengevaluasi status antioksidan dalam
terjadinya katarak senilis adalah
ketidakmampuan untuk mengukur antioksidan
secara langsung pada lensa okular in vivo dan
karena itu, banyak peneliti yang menggunakan
RBC serum atau plasma pasien untuk
mengevaluasi status antioksidan pada katarak
senilis
Pembahasan
• Dalam penelitian ini, menunjukan kadar asam
askorbat serum adalah 0.54 ± 0.23 mg/dl (30.68
±13.07 umol/L) pada katarak senilis dan 0.83 ±
0.35 mg/dl (47.16 ± 19.89 umol/L) pada kontrol
dengan perbedaan statistik antara kasus dan
kontrol yang menunjukkan penurunan yang
signifikan dalam kadar vitamin C pada serum
pasien katarak yang terkait usia dibandingkan
dengan kelompok kontrol.
Pembahasan
• Dherani M dkk, dengan penelitian cross sectional
di India terhadap 1112 pasien yang berusia ≥ 50
tahun dilakukan pengambilan sampel darah dan
dibandingkan dengan kadar pada populasi Barat.
• Menunjukan bahwa vitamin C berhubungan
terbalik dengan katarak dengan asam askorbat
sebesar 0.64 (0.48 – 0.85) (paling tinggi (≥ 15
mikromole/L) dibandingkan dengan paling
rendah (≤ 6.3 mikromole/L).
Pembahasan
• Ravilla Ravindran dkk, sebuah penelitian kasus kontrol di India
terhadap sejumlah total 5638 pasien yang berusia ≥ 60 tahun;
vitamin C plasma yang diukur dengan menggunakan pengujian
berbasis enzim pada plasma yang distabilkan dengan asam
metafosforat, berhubungan terbalik dengan katarak dengan
kadar sebesar 0.61 mg/dl (0.51 – 0.74).
• Kamath dkk, sebuah penelitian di India dengan total sebanyak
131 partisipan di masing-masing kelompok, pasien dengan
katarak yang lebih padat memiliki kadar vitamin C serum yang
secara signifikan lebih rendah (0.91 ± 0.40 mg/dl pada
kelompok 1 dengan katarak berbanding 1.16 + 0.50 mg/dl pada
kelompok 2 tanpa katarak minimal.
Pembahasan
• Maria Pastor Valero dkk, sebuah penelitian kasus kontrol
di Spanyol terhadap 343 pasien di kelompok usia 55 – 74
tahun, kadar askorbat serum adalah 0.30 (0.18 – 0.51 )
dan kadar vitamin C serum diatas 49 mikromole/L
berkaitan dengan penurunan risiko untuk katarak
sebesar 64%, yang menunjukkan bukti peran protektif
vitamin C pada lensa yang mengalami penuaan.
• Simon dkk, sebuah penelitian cross sectional di AS
terhadap 416 pasien di kelompok usia 60 – 74 tahun,
kadar askorbat serum adalah 0.74 (0.54 – 0.97).
Pembahasan
• Ferringo dkk, sebuah penelitian cross sectional
di AS terhadap 710 pasien di kelompok usia 55
– 75 tahun, kadar askorbat serum adalah 0.74
(0.42 – 1.15)
• Wei dkk, kadar askorbat serum yang paling
tinggi berbanding yang terendah secara
signifikan berkaitan dengan risiko katarak
sebesar 0.704 (0.564 – 0.879).
Pembahasan
• Pada penelitian eksperimental yang
menunjukkan efek protektif vitamin C pada
katarak terkait usia dan kadar vitamin C
plasma yang memadai dapat mencegah
kerusakan oksidatif pada lensa dengan
kebutuhan akan lebih banyak penelitian untuk
mengonfirmasi kepentingan vitamin C pada
lensa mata.
Kesimpulan
• Kesimpulannya, penelitian kami dan penelitian lainnya
menunjukkan hubungan yang terbalik antara kadar askorbat
serum dengan risiko katarak senilis yang mengesankan bahwa
askorbat serum mungkin mengurangi risiko katarak senilis.
• Penelitian ini dengan kadar vitamin C serum yang rendah pada
katarak terkait usia dibandingkan dengan kontrol, menunjukkan
peningkatan kebutuhan akan vitamin antioksidan untuk
mengatasi stres oksidatif dan kerusakan
• Oleh karena itu dapat dibenarkan untuk menggunakan
antioksidan untuk meningkatkan kadar serumnya sehingga
meningkatkan kadarnya di aqueous humornya untuk mencegah
katarak senilis.