Вы находитесь на странице: 1из 121

PENDIDIKAN INKLUSIF

Dr. Asep Supena, M.Psi


081316310505

Disampaikan dalam Kuliah Umum


Mata Kuliah Orientasi Baru dalam Pendidikan Khusus
Jurusdan Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta
Gedung sergur lantai 8, 11 Maret 2019
Presentasi hasil analisis konsep
peradaban manusia thd ABK
• Tiana
– Awalnya dimusnahkan atau menjadi objek permainan.
– abad 19 mulai ada sekolah untuk ABK dalam bentuk segreg
asi
– 1968 mulai ada mainstreaming di scandinavia
– 1981 hari PCI
• 1952 membuka SGPLB di bandung
• 1980 Pendidikan terpadu
• 2000 Pendidikan inklusif
• 2004 deklarasi di bandung
INDIVIDUAL DIFFERENCES

• All children are differences


(physic, motoric, cognitive,
emotional, social).
KERAGAMAN
INDIVIDUALPESERTA DIDIK
DIFFERENCES
• The degree of these differences determin
es wheather a child exceptional and ther
efore eligible for special educational servi
ces.

1. EXCEPTIONAL CHILDREN
2. DISABILITY
3. STUDENT WITH SPECIAL NEEDS
TERMINOLOGI
1. EXCEPTIONAL CHILDREN
(ANAK LUAR BIASA)

2. CHILDREN WITH DISABILITY


(ANAK DISABILITAS)

3. CHILDREN WITH SPECIAL


EDUCATIONAL NEEDS
(ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)
EXCEPTIONAL CHILDREN
EXCEPTIONAL CHILD

• The exceptional child is who di


ffers/devites from the norm (n
ormal), significanlly.

• The definition of normal in our


culture is elusive.
BATASAN
• When individuals meet the social and educational ex
pectations of the group, they are considered normal.
People within a group may be characterized as norm
al when they conform to the group’s rules or values.

• When the child differs from the norm to such an exte


nt that specialized and individualized educational pro
gramming is required to meet that child’s unique nee
ds, he or she is considered an exceptional child.
Menyimpang
Wilayah 2 SD dari rat
rata-rata a-rata
(“normal”)

Menyimpang
1 SD dari rat
a-rata
Border line
Wilayah
rata-rata
(“normal”)

Exceptional
EXCEPTIONAL CHILD
• We define an exceptional child as a child who differs fr
om the average child in (1) mental characteristics, (2) s
ensory abilities, (3) communication abilities, (4) behavi
or and emotional development, and/or (5) physical cha
racteristics.

• These differences must occur to such an extent that th


e child requires either a modification of school practice
s or special educational services to develop his or her u
nique capabilities.
• (Kirk, Gallagher, Coleman, Anastasiow, 2009)
EXCEPTIONAL CHILDREN

• We define an exceptional child as a child


who differs from the average child in (1)
mental characteristics, (2) sensory abilitie
s, (3) communication abilities, (4) behavi
or and emotional development, and/or (
5) physical characteristics.

(Kirk, Gallagher, Coleman, Anastasiow, 2009)


EXCEPTIONAL CHILDREN

• These differences must occur to such an


extent that the child requires either a mo
dification of school practices or special e
ducational services to develop his or her
unique capabilities.

(Kirk, Gallagher, Coleman, Anastasiow, 2009)


EXCEPTIONAL CHILDREN

The term exceptional is generally use


d to include both the child with devel
opmental disabilities and the child w
ho is gifted.

(Kirk, Gallagher, Coleman, Anastasiow, 2009)


EXCEPTIONAL CHILDREN
(ANAK LUAR BIASA)
Adalah mereka yang mengalami perbedaan atau penyimpan
gan secara signifikan dari keadaan rata-rata (normal), baik p
ada aspek fisik, motorik, kognitif, emosi dan atau sosial, se
hingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan yang khu
sus supaya dapat mengembangkan potensinya secara optim
al.

Di atas rata-rata
Di bawah rata-rata
DISABILITY

STUDENT WITH DISABILITY

PENYANDANG DISABILITAS
STUDENT WITH DISABILITY
(PENYANDANG DISABILITAS)

Adalah mereka yang memiliki hambatan, kesulitan, keter


batasan atau ketidakmampuan dalam menjalankan aktiv
itas tertentu dalam jangka waktu yang lama, disebabkan
karena ada kerusakan atau hambatan (impairment) pada
aspek perkembangan tertentu (fisik, sensori, kognitif, da
n atau sosio-emosional) sehingga mereka membutuhkan
cara atau alat khusus supaya dapat beraktivitas secara o
ptimal
PENYANDANG DISABILITAS
• Penyandang Disabilitas adalah setiap orang ya
ng mengalami keterbatasan fisik, intelektual,
mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu
lama yang dalam berinteraksi dengan lingkung
an dapat mengalami hambatan dan kesulitan
untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif
dengan warga negara lainnya berdasarkan kes
amaan hak

• UU nomor 8/2016, pasal 1


RAGAM DISABILITAS
Ragam Penyandang Disabilitas meliputi:
1.Penyandang Disabilitas fisik;
2.Penyandang Disabilitas intelektual;
3.Penyandang Disabilitas mental; dan/
atau
4.Penyandang Disabilitas sensorik.

UU nomor 8/2016, pasal 4


RAGAM DAN KATAGORI DISABILITA
S
1. FISIK
2. SENSORIK
3. INTELEKTUAL
4. MENTAL
5. BAHASA-KOMUNIKASI
6. EMOSI-SOSIAL (PERILAKU)
RAGAM DISABILITAS
1. TUNANETRA 1. FISIK
2. TUNARUNGU 2. SENSORIK-NEUROLOGIK
3. TUNAGRAHITA 3. INTELEKTUAL
4. TUNADAKSA 4. MENTAL
5. GANG.KOMUNIKASI 5. BAHASA-KOMUNIKASI
6. TUNALARAS 6. EMOSI-SOSIAL
7. KESBEL (PERILAKU)
8. ADHD
9. AUTIS
10.TUNA MAJEMUK
Visual impairment
EXCEPTIONAL CHILDREN
sensory disorders hearing impairmen
t
Physical disorders orthopedical disor
ders
mild
Mental retardation moderate
severe
dyslexia
Learning disabilitie dysghrapia
s dyscalculia
Disabilities
aggressive behavior

Withdrawn and immature


Emotional disturba
nces hyperactivity
Schizophrenia and autis
m

Drug and alcohol abuse, juvenile delinquency


Behavioral disorde
rs
Family issues, child abuse and neglect

Articulation and voice dis


Speech disorder order
Communication disord
ers
Language disorde Receptive and expressive l
Gifted & tal r anguage disorders
ented
• Ragam Penyandang Disabilitas sebagaima
na dimaksud pada ayat (1) dapat dialami
secara tunggal, ganda, atau multi dalam j
angka waktu lama yang ditetapkan oleh t
enaga medis sesuai dengan ketentuan pe
raturan perundang-undangan.

UU nomor 8/2016, pasal 4


Student With Special
Educational Needs

Anak Berkebutuhan Khusus


ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
(Student With Special Educational Needs)

Anak yang membutuhkan cara atau pelaya


nan pendidikan yang berbeda (khusus)

Bisa disebabkan karena faktor internal (kon


disi perkembangan) atau faktor ekternal (
lingkungan).
HUBUNGAN
STUDENT WITH
SPECIAL EDUC
ATIONAL NEED
S

EXCEPTIONAL
STUDENT

STUDENT WITH
DISABILITIES
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
• TUNANETRA
(ABK)
• TUNARUNGU
SEBAB INTERNAL • GANG.KOMUNIKA
• TUNAGRAHITA
DISABILITAS • TUNADAKSA
EXCEPTIONAL C • TUNALARAS
HILDREN • KESBEL
• ADHD
• AUTIS
• TUNAGANDA
ABK

KEUNGGULAN • GIFTED &


TALENTED

SEBAB EKSTERN Fakir, miskin, terlantar, korban bencana, ko


AL nflik sosial, terbelakang secara geografis, so
sial, minoritas, narkoba, broeken home, ha
mbatan kultur dll.
RAGAM ABK
1. Visual impairments (tunanetra)
2. Hearing impairment (tunarungu)
3. Intelectual disability (tunagrahita)
4. Communication disorders (speech or language disorde
rs)
5. Phyisical and health disabilities (tunadaksa)
6. Emotional and behavior disorders (tunalaras)
7. Learning disabilities (kesulitan belajar)
8. Autis
9. ADHD (hiperaktif)
10. Severely and multiply handicapped
11. Gifted and talented
PENDIDIKAN KHUSUS
Special Education
PENDIDIKAN KHUSUS
Adalah pendidikan yang dirancang
dan diberlakukan untuk anak-anak
berkebutuhan khusus
• Goal
• Content
• Process/methode
• Evaluation
• Environment
• Devices
• Guru …
MODEL PENDIDIKAN KHUSUS

MAINSTREAMING
SEGREGATIF (INTEGRATIF)

Anak berkebutuhan khusus memperoleh layAnak berkebutuhan khusus mengikuti pendi


anan pendidikan pada lingkungan khusus y dikan pada lingkungan umum (regular)
ang terpisah dari anak-anak “normal”

SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)


SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB). PENDIDKAN INKLUSIF
LEMBAGA NON-SEKOLAH (PANTI, RMH SAKIT)
MODEL PENDIDIKAN KHUSUS

SEJENIS

BEBERAPA
JENIS
PENDIDIKAN KHUSUS
PENDIDIKAN
KHUSUS
Tunanetra (A) C
SLB Tunarungu (B)
Tunagrahita (C) C1
SEKOLAH KH Tunadaksa (D) D
SEGREGATIF Tunalaras (E)
USUS D1
Autis
Kesulitan belajar
Tunamajemuk

SPECIAL CLASS •TK


•SD
SEKOLAH IN
MAINSTREAMING •SMP
KLUSIF
INCLUSIVE CLA •SMA
SS •PT
PENDIDIKAN KHUSUS (PK)
• Pendidikan khusus merupakan pendidikan
bagi peserta didik yang memiliki tingkat k
esulitan dalam mengikuti proses pembelaj
aran karena kelainan fisik,emosional, ment
al, sosial, dan/atau memiliki potensi kecer
dasan dan bakat istimewa

Pasal 32, ayat (1) UU No 20/2003


PENDIDIKAN KHUSUS
1. Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosio
nal, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memp
eroleh pendidikan khusus (UU no. 20/2003, pasal 5:2)

2. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan b


akat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus
(UU no. 20/2003, pasal 5:4)

3. Pendidikan khusus dapat dilaksanakan melalui lembag


a pendidikan khusus (SLB) atau inklusif (terintergasi k
e dalam lembaga pendidikan reguler) (penjelasan UU
no 20/2003)
PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS (P
LK)
• Pendidikan layanan khusus merupakan pe
ndidikan bagi peserta didik di daerah terpe
ncil atau terbelakang, masyarakat adat ya
ng terpencil, dan/atau mengalami bencana
alam, bencana sosial, dan tidak mampu d
ari segi ekonomi

• Pasal 32, ayat (2) UU No 20/2003


KENAPA DISABILITAS PERLU MEMPEROLE
H PENDIDIKAN ?

1. Disabilitas memiliki kebutuhan untuk hidup,


berkembang dan mengaktualisaikan diri, seb
agaimana manusia lainnya (FILOSOFIS)

2. Dimata hukum mereka memiliki hak dan kes


empatan yang sama untuk memperoleh pen
didikan yang bermutu (YURIDIS).
KENAPA DISABILITAS PERLU
MEMPEROLEH PENDIDIKAN ?

3. Mereka memiliki potensi yang dapat dikembang


kan, sehingga dapat bermanfaat dan memberi k
ontribusi bagi diri dan masyarakatnya (PEDAGO
GIS-PSIKOLOGIS).

4. Manusia perlu saling membantu dan memfasilit


asi satu sama lain untuk maju dan berkembang
supaya terbangun kehidupan bersama yang ber
kualitas (SOSIOLOGIS).

5. Landasan religious
LANDASAN HUKUM
• Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of H
uman Rights)
• Konvensi Hak Anak 1989 (Convention on the rights of the Child
)
• Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (Education f
or All) - Jomtien, Thailand, 1990.
• Resolusi PBB Nomor 48/96 tahun 1993: Peraturan Standar ten
tang Persamaan Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas (Sta
ndard Rules on Equalization of Opportunities for Persons with
Disabilities).
• Pernyataan Salamanca (UNESCO), Spanyol, 1994
• Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (Convention on
the Rights of Persons with Disabilities) (Resolusi PBB 61/1
06, 13 Desember 2006)
• Undang-Undang Dasar 1945 (amandemen), khususnya pa
sal 31 ayat (1) : “setiap warga negara berhak mendapat p
endidikan “, dan ayat (2) : “setiap warga negara wajib me
ngikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiay
ainya”.
• Undang-Undang No: 39 Tahun 1999 Tentang H
ak Asasi Manusia
• Undang-Undang No. 4 tahun 1997 tentang Pe
nyandang Cacat
• Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 ta
hun 2002 tentang Perlindungan Anak
• Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentan
g Sistem Pendidikan Nasional.
• Undang-Undang nomor 19 tahun 2011 tentan
g Ratifikasi Konvensi Hak-hak Penyandang Disa
bilitas.

• Undang-Undang nomor 12 tahun 2012, tentan


g Pendidikan Tinggi.
• Undang-undang nomor 8 tahun 2016, tentang
penyandang disabilitas

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No


mor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan P
enyelenggaraan Pendidikan.
• Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas
) nomor 70 tahun 2009, tentang Pendidikan Inklusif bag
i Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Pot
ensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

• Permenristekdikti 46/2017 tentang pendidikan khusus


di perguruan tinggi.

• Nota kesepahaman Menteri Pendidikan dan Kebudayaa


n RI dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI)
nomor 6/V/MK/2012 tertanggal 2 Mei 2012.
DISABILITAS
DALAM PERSPEKTIF HUKUM
1. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk me
mperoleh pendidikan yang bermutu (UU no. 20/2003, pasal
5:1).

2. Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional,


mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pe
ndidikan khusus (UU no. 20/2003, pasal 5:2)

3. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat


istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus (UU no. 2
0/2003, pasal 5:4)

4. Pendidikan khusus dapat dilaksanakan melalui lembaga pe


ndidikan khusus (SLB) atau inklusif (terintergasi ke dalam l
embaga pendidikan reguler) (penjelasan UU no 20/2003)
Pasal 32
ayat (1) : Pendidikan khusus merupakan pendidikan
bagi peserta didik yang memiliki tingkat k
esulitan dalam mengikuti proses pembelaj
aran karena kelainan fisik,emosional, me
ntal, sosial, dan/atau memiliki potensi kec
erdasan dan bakat istimewa.

ayat (2): Pendidikan layanan khusus merupakan p


endidikan bagi peserta didik di daerah ter
pencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami benc
ana alam, bencana sosial, dan tidak mam
pu dari segi ekonomi.

3
TUGAS MINGGU DEPAN
• APAKAH PELAKSANAAN PENDIDIKAN INKLUSIF
DI INDONESIA MEMILIKI ALASAN (DASAR) HUK
UM YANG KUAT? BUKTIKAN/TUNJUKAN BUKTI
NYA? (PASAL ATAU AYAT ATAU ATURAN PERUN
DANGAN SECARA UTUH)
PENDIDIKAN KHUSUS
PENDIDIKAN
KHUSUS
Tunanetra (A) C
SLB Tunarungu (B)
Tunagrahita (C) C1
SEKOLAH KH Tunadaksa (D) D
SEGREGATIF Tunalaras (E)
USUS D1
Autis
Kesulitan belajar
Tunamajemuk

SPECIAL CLASS •TK


•SD
SEKOLAH IN
MAINSTREAMING •SMP
KLUSIF
INCLUSIVE CLA •SMA
SS •PT
FAKTA DAN PERMASALAHA
N
• JUMLAH SEKOLAH KHUSUS (SLB) TERBATAS DAN
CENDERUNG TERKONSENTRASI DI KOTA-KOTA B
ESAR
• ABK TERSEBAR DI BERBAGAI TEMPAT HINGGA K
E PELOSOK DAN TEMPAT2 TERPENCIL
• PEMBANGUNAN SLB MEMBUTUHKAN DANA YA
NG CUKUP BESAR
• MASIH BANYAK ABK YANG BELUM MEMPEROLE
H PENDIDIKAN
ALTERNATIF SOLUSI

• PENDIDIKAN INKLUSIF
INCLUSIVE
EDUCATION
ARTI INKLUSI
INKLUSI (INCLUSION)
Kata benda (noun) yang berarti:
– Kesatuan,
– Penyertaan,
– Pencantuman,
– Pemasukan,
– Partisipasi”.
ARTI INKLUSIF
INKLUSIF (inclusive)
Kata sifat (adjective) yang berarti:

– Termasuk atau
– Menjadi bagian dari
ARTI INKLUSI/INKLUSIF
• Inklusi atau Inklusif,
secara harfiah berarti mengikutsertakan
atau memasukan sesuatu sehingga me
njadi bagian dari keseluruhan (menyat
u).
SECARA UMU
M INCLUSIVE
EDUCATION
Suatu ideologi, sistem dan atau strategi
pendidikan dimana semua anak dari berbagai
kondisi dapat mengikuti pendidikan dalam
satu lingkungan pendidikan secara bersama,
dengan suatu sistem pendidikan yang
disesuaikan dengan kebutuhan masing-
masing anak.
Pendidikan yang terbuka, ramah dan mengakomodir semua anak
PENDIDIKAN INKLUSIF

• Pendidikan yang terbuka da


n ramah bagi semua anak
DALAM KONT
EKS ABK INCLUSIVE
EDUCATION
Suatu ideologi, sistem dan atau strategi
pendidikan dimana anak-anak berkebutuhan
khusus mengikuti pendidikan dalam satu
lingkungan pendidikan secara bersama dengan
anak-anak lainnya, dengan sistem layanan
pendidikan yang disesuaikan dengan
kebutuhan ABK

Pendidikan yang terbuka, ramah dan mengakomodir semua anak


CIRI UMUM PENDIDIKAN INKLUS
IF
• Sekolah menerima semua anak dari berbagai kon
disi, tanpa membedakan latar belakang ekonomi,
sosial, budaya, kemampuan dll.

• Sekolah menghargai dan menerima perbedaan y


ang ada pada siswa.

• Sekolah menyiapkan lingkungan dan sistem pelay


anan yang dapat menjamin semua anak berpartis
ipasi dalam berbagai program atau kegiatan yang
ada di sekolah.
CIRI UMUM PENDIDIKAN INKLUS
IF
• Setiap anak memperoleh layanan pendidikan/
pembelajaran yang sesuai dengan kemampua
n dan kebutuhannya.

• Semua anak memperoleh kesempatan yang sa


ma untuk berpartisipasi dalam kegiatan pendi
dikan, dengan cara dan kadar yang mungkin b
erbeda.
CIRI PENDIDIKAN INKLUSIF
DALAM KONTEKS ABK
• Anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan un
tuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler bersa
ma dengan siswa lainnya.

• Sekolah menghargai dan menerima Kondisi yang


ada pada ABK (kekurangan/kelebihan)

• Sekolah menerima dan mengakui hak-hak ABK se


cara penuh sebagai warga sekolah sebagaimana si
swa lainnya.
CIRI PENDIDIKAN INKLUSIF
DALAM KONTEKS ABK
• Sekolah menyiapkan lingkungan dan sistem pelayanan
pendidikan/pembelajaran yang dapat menjamin ABK b
erpartisipasi dalam berbagai program atau kegiatan ya
ng ada di sekolah.

• ABK memperoleh layanan pendidikan/ pembelajaran y


ang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

• ABK memperoleh kesempatan yang sama untuk berpar


tisipasi dalam kegiatan pendidikan, dengan cara dan ka
dar yang mungkin berbeda.
LANDASAN
• FILOSOFIS
• SOSIAL
• PSIKOLOGIS
• YURIDIS
MENGAPA PERLU PI
• Kita adalah masyarakat yang satu (masyarakat inklusif). H
idup bersama dan menyatu.

• Untuk mempermudah dan memperluas kesempatan ABK


mengikuti pendidikan, dalam rangka memenuhi prinsip e
ducation for all, wajib belajar.

• Proses pembelajaran emosi-sosial bagi ABK.

• Proses pembelajaran (emosi-sosial-spiritual) bagi anak-a


nak lainnya.
PRA-SYARAT PENYELENGGARAAN PEN
DIDIKAN INKLUSIF
• Ada kesadaran, sikap positif dan kemauan dari pihak se
kolah dan berbagai stake holders lainnya untuk meneri
ma dan melayani ABK di sekolah reguler.

• Ada peraturan perundangan yang memberi landasan h


ukum bagi pelaksanan pendidikan inklusif.

• Guru-guru memiliki pemahaman tentang ABK dan me


miliki kemampuan dasar tentang cara memberikan laya
nan pendidikan kepada mereka.
PRA-SYARAT PENYELENGGARAAN PEN
DIDIKAN INKLUSIF
• Ada guru pembimbing khusus (GPK) minimal 1 orang untuk
satu sekolah.

• Tersedia lingkungan fisik (sarana/prasarana) yang aksesable


bagi ABK.

• Tersedia sistem layanan akademik (kurikulum dan pembelaj


aran) yang dapat mengakomodir kebutuhan khusus ABK.

• Tersedia sarana pendukung untuk memperkuat pelaksanaa


n layanan pendidikan kepada ABK (resource room dan reso
urce center)
KEMUNGKINAN
MODEL/SETING PEND. INKLUSIF
SEKOLAH REGULER

Seluruh atau Sebagian be


FULL INCLUSION sar waktu belajar ABK dila
(INCLUSIVE CLASSROOM) kukan di kelas reguler

Separo waktu belajar ABK


RESOURCE ROOM dilakukan di kelas reguler
dan di ruang sumber.

Seluruh atau Sebagian be


SPECIAL CLASS sar waktu belajar ABK dila
kukan di kelas khusus
KURIKULUM
DAN PEMBELAJARAN
DALAM SETING INKLUSIF
KURIKULUM
Pengertian sempit :
Serangkaian materi, isi atau mata
pelajaran yang akan disampaikan
dalam kegiatan belajar mengajar.
KURIKULUM
Pengertian luas:
Kurikulum adalah semua pengala
man yang diperoleh siswa yang d
apat membantunya untuk mewuju
dkan berbagai potensi yang dimili
kinya.
KURIKULUM
ACUAN, RUJUKAN, ATAU RAMBU-RAMB
U DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARA
N DAN /ATAU PENDIDIKAN UNTUK MENC
APAI KEPADA SUATU TUJUAN YANG DII
NGINKAN
KURIKULUM

TUJUAN
ANAK
PENDIDIKAN
KURIKULUM
pada tataran teknis-operasional

Adalah seperangkat rencana dan atau p


engaturan pelaksanaan pembelajaran at
au pendidikan yang didalamnya mencak
up pengaturan tentang tujuan, isi, pros
es, dan evaluasi.
KOMPONEN KURIKULUM
Keadaan yang ingin dicapai setelah menjal
TUJUAN ani proses pembelajaran, berupa kemampu
an kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Materi atau substansi yang harus dipelajari


oleh peserta didik, supaya dapat mencapai
ISI tujuan yang diinginkan.

Kegiatan atau aktivitas pembelajaran yang


PROSES harus dilakukan untuk mencapai tujuan.

Proses yang dilakukan untuk mengetahui k


EVALUASI eberhasilan pencapaian tujuan.
LEVEL KURIKULUM
Dirancang dan diberlakukan untuk seluru
NASIONAL h wilayah dari sebuah negara.

Dirancang dan diberlakukan pada suatu


LOKAL wilayah tertentu (propinsi, kab/kota dll.)

Dirancang dan diberlakukan dalam suatu


INSTITUSI lembaga atau satuan pendidikan tertentu.

Dirancang dan diberlakukan untuk sekelo


KELAS mpok peserta didik dalam suatu kelas.

Dirancang dan diberlakukan untuk seoran


g siswa secara individual..
INDIVIDU
BAGAIMANA KURIKULUM
DALAM KONTEKS INKLUSIF ?
MODEL-MODEL KURIKULUM
DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF
KURIKULUM UNTUK ABK DISAMAKAN D
DUPLIKASI ENGAN KURIKULUM UMUM.

KURIKULUM UMUM DIRUBAH UNTUK DI


MODIFIKASI SESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN DAN
KEMAMPUAN SISWA ABK

BEBERAPA BAGIAN DARI KURIKULUM U


SUBSTITUSI MUM DITIADAKAN TETAPI DIGANTI DEN
GAN SESUATU YANG KURANG LEBIH S
ETARA.

BEBERAPA BAGIAN DARI KURIKULUM U


OMISI MUM DITIADAKAN SAMA SEKALI KAREN
A TIDAK MEMUNGKINKAN BAGI ABK
BAGAIMANA
MENGEMBANGAN KURIKULUM
DALAM SETING INKLUSIF ?
MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM INK
LUSIF

DUPLIKASI MODIFIKAS SUBSTITUSI OMISI

TUJUAN 1 2 3 4

ISI 5 6 7 8

PROSES 9 10 11 12

EVALUASI 13 14 15 16
KURIKULUM DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF

• Satuan pendidikan penyelenggara pendid


ikan inklusif menggunakan kurikulum ting
kat satuan pendidikan yang mengakomod
asi kebutuhan dan kemampuan peserta d
idik sesuai dengan bakat, minat dan pote
nsinya.
PERMENDIKNAS NO 70.2009
PEMBELAJARAN DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF

• Pembelajaran pada pendidikan inklus


if mempertimbangkan prinsip-prinsip
pembelajaran yang disesuaikan deng
an karakteristik belajar peserta didik.
KOMPONEN 1:
TUJUAN PEMBELAJARAN

• Kemampuan atau kompetensi yang harus diku


asai oleh peserta didik setelah menjalani kegia
tan pembelajaran.

• Tujuan pembelajaran/pendidikan berjenjang,


dari tujuan yang paling umum sampai dengan
yang paling khusus.
TUJUAN PEMBELAJARAN

TUJUAN NASIONAL

TUJUAN INSTITUSION STANDAR KOMPETEN


AL SI LULUSAN

TUJUAN KURIKULER KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI
DASAR

INDIKATOR
ANALISIS TUJUAN PEMBELAJARAN
DALAM SETING INKLUSI

STANDAR KOMPET
ENSI LULUSAN Duplikasi

KOMPETENSI INTI Modifikasi


KOMPETENSI
DASAR Substitusi

INDIKATOR Omisi
MODIFIKASI TUJUAN
KOMPETENSI

Siswa dapat membedak


Siswa dapat menghitu
an bentuk segitiga dari
ng luas segitiga sama
bentuk geometri lainny
sisi
a

ANAK PADA UMUMNYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


INDIKATOR UMUM INDIKATOR ABK
IPA/KELAS 3 SD SISWA DAPAT MENYEBUTKAN CO ……… (SAMA) DI LINGKUNG
NTOH KENAMPAKAN ALAM BUAT AN SEKITAR. (BEDANYA DI P
AN ROSES)

MAT/KELAS 2 SD SISWA DAPAT MENGHITUNG PEN 1 ANGKA DENGAN HASIL DI


JUMLAHAN 3 ANGKA DENGAN S BAWAH 10 ATAU 5. (PROSES
USUN KE BAWAH : PENJUMLAHAN MENGGU
NAKAN ALAT BANTU)

IPA/KELES 6 SISWA DAPAT MENGGOLONGKA


N BENDA YANG BERSIFAT KONDU
KTOR DAN ISOLATOR

KELAS 3 SMP SISWA DAPAT MENYEBUTKAN NE


GARA MAJU DAN BERKEMBANG.
PENGEMBANGAN INDIKATOR UNTUK ABK DALAM PEN
DIDIKAN INKLUSIF
KI KD INDIKATOR INDIKATOR AB
K
A A.1 A.1.1

A.1.2

A.1.3

A.2 A.2.1

A.2.2

A.2.3
KOMPONEN 2:
ISI/MATERI
• Berkaitan dengan materi (konsep, teori, infor
masi, pokok bahasan) yang harus dipelajari
oleh peserta didik, supaya dapat menguasai
kompetensi yang diharapkan.

– Konsep bilangan - proses fotosintetis


– Bilangan ganjil - konsep ekosistem
– Kensep penjumlahan - toleransi beragama
– Konsep pengurangan - hukum zakat
– Benda geometrik - tata cara sholat
ANALISIS MATERI PEMBELAJARAN
DALAM SETING INKLUSI

Duplikasi

Modifikasi
MATERI
Substitusi

Omisi
MODIFIKASI MATERI
MATERI
MATEMATIKA SD

PERKALIAN BILANGAN DEN PENJUMLAHAN BILANGAN D


GAN HASIL DIBAWAH SERAT ENGAN HASIL DI BAWAH SE
US PULUH

ANAK PADA UMUMNYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


PENGEMBANGAN MATERI UNTUK ABK
DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF
SK KD INDIKATOR INDIKATOR MATERI
ABK ABK
A A.1 A.1.1

A.1.2

A.1.3

A.2 A.2.1

A.2.2

A.2.3
KOMPONEN 3
PROSES PEMBELAJARAN
• Proses berkaitan dengan kegiatan yang harus dilaks
anakan oleh peserta didik, guru dan komponen lainn
ya, supaya dapat menguasai kompetensi yang dihar
apkan (PBM).

• Proses pembelajaran berkaitan dengan lima hal:


– Waktu
– Cara (bentuk kegiatan)
– Tempat/lingkungan
– Sumber
– Media/alat
ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN DA
LAM SETING INKLUSI

WAKTU
Duplikasi
CARA
PROSES PEMBE
Modifikasi
LAJARAN
TEMPAT

SUMBER Substitusi

ALAT
Omisi
Contoh:
MODIFIKASI PROSES

• Waktu belajar diperpanjang.


• Pembelajaran sewaktu-waktu di laksanakan di kelas k
husus (resource room).
• Penggunaan alat bantu khusus dalam pembelajaran.
• Penggunaan guru pendamping (shadow teacher).
• Penempatan tempat duduk pada lokasi tertentu (dek
at dengan guru).
Contoh:
MODIFIKASI PROSES

• Pemanfaatan siswa “normal” sebagai tutor.


• Pemberian tugas khusus yang berbeda dengan siswa
lain.
• Pemberian penjelasan/pembelajaran khusus di luar j
am belajar umum.
• Penggunaan bahan/sumber ajar yang berbeda/khusu
s.
PEMBELAJARAN DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF

• Pembelajaran pada pendidikan inklus


if mempertimbangkan prinsip-prinsip
pembelajaran yang disesuaikan deng
an karakteristik belajar peserta didik.

PERMENDIKNAS NO. 70/2009


PASAL 8
KOMPONEN 4:
EVALUASI PEMBELAJARAN

• Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan u


ntuk mengetahui keberhasilan peserta di
dik dalam mencapai tujuan atau kompete
nsi yang telah ditetapkan.
EVALUASI PEMBELAJARAN

• Pelaksanaan evaluasi berkaitan dengan lima aspek ut


ama:
1. Isi
2. Waktu
3. Cara
4. Alat
5. Tempat
ANALISIS PROSES EVALUASI
DALAM SETING INKLUSI

ISI
Duplikasi
WAKTU
Modifikasi
EVALUASI CARA

ALAT Substitusi

TEMPAT
Omisi
SISTEM EVALUASI DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF
– Penilaian hasil belajar bagi peserta didik pendidika
n inklusif mengacu pada kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang bersangkutan.

– Peserta didik yang mengikuti pembelajaran berdas


arkan kurikulum yang dikembangkan sesuai denga
n standar nasional pendidikan atau di atas standar
nasional pendidikan wajib mengikuti ujian nasion
al.
PERMENDIKNAS NO 70.2007
SISTEM EVALUASI DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF

• Peserta didik yang memiliki kelainan dan men


gikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum ya
ng dikembangkan di bawah standar nasional p
endidikan mengikuti ujian yang diselenggarak
an oleh satuan pendidikan yang bersangkuta
n.

PERMENDIKNAS NO 70.2007
SISTEM EVALUASI DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF
–Peserta didik yang menyelesaikan pend
idikan dan lulus ujian sesuai dengan sta
ndar nasional pendidikan mendapatka
n ijazah yang blankonya dikeluarkan ol
eh Pemerintah.

PERMENDIKNAS NO 70.2009
SISTEM EVALUASI DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF
– Peserta didik yang memiliki kelainan yang menye
lesaikan pendidikan berdasarkan kurikulum yang
dikembangkan oleh satuan pendidikan di bawah
standar nasional pendidikan mendapatkan surat
tanda tamat belajar yang blankonya dikeluarkan
oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.

PERMENDIKNAS NO 70.2007
SISTEM EVALUASI DALAM
PENDIDIKAN INKLUSIF

• Peserta didik yang memperoleh surat tanda ta


mat belajar dapat melanjutkan pendidikan pa
da tingkat atau jenjang yang lebih tinggi pada
satuan pendidikan yang menyelenggarakan pe
ndidikan inklusif atau satuan pendidikan khus
us.

PERMENDIKNAS NO 70.2007
MODIFIKASI
DALAM EVALUASI

• Soal yang digunakan berbeda dengan anak pa


da umumnya. (soal disesuaikan dengan materi
yg diajarkan untuk ABK)
• Waktu penilaian diperpanjang.
• Evaluasi dilaksanakan di tempat tertentu.
• Evaluasi dilaksanakan secara individual.
MODIFIKASI
DALAM EVALUASI

• Evaluasi dilaksanakan secara lisan (guru memb


acakan soal murid menuliskan jawaban; guru
membacakan soal siswa menjawab secara lisa
n, kemudian dituliskan oleh guru).
• Evaluasi menggunakan alat khusus (braille, ata
u komputer).
MODIFIKASI
DALAM EVALUASI

• Standar kelulusan berbeda.


• Sistem pelaporan yang berbeda (rapor).
• Sistem kenaikan kelas otomatis
• Sistem Ijazah yang berbeda.
PENGEMBANGAN SOAL EVALUASI
UNTUK ABK DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF
SK KD INDIKATOR INDIKATOR SOAL
ABK
A A.1 A.1.1

A.1.2

A.1.3

A.2 A.2.1

A.2.2

A.2.3
RANCANGAN KURI
KULUM DAN PEMBE
• Informasi dari tenaga ahli LAJARAN
• Informasi dari orang tua INKLUSI
• Informasi dari guru pendamping
• Tes, pengamatan, wawancara

Duplikasi

KURIKULUM DAN PEMB Modifikasi


SISWA ASESMEN ELAJARAN
Substitusi

Omisi
• KEMAMPUAN
• GAYA BELAJAR  TUJUAN
• PRILAKU  MATERI
•…  PROSES
 ALAT/MEDIA
 EVALUASI
ALUR UMUM PENANGANAN ABK
DI SEKOLAH INKLUSIF
• Informasi dari tenaga ahli
• Informasi dari orang tua
• Informasi dari guru pendamping
• Guru melakukan Tes,
pengamatan, wawancara

PENDATAAN, PENGEMBANGAN PRO


SISWA PENEMPATAN KE EVALUASI
IDENTIFIKASI & AS GRAM PEMBELAJARA
LAS
ESMEN N

memperoleh informasi
tentang data siswa:
 TUJUAN
•Identitas diri
 MATERI
•Keluarga.
 PROSES
•Kemampuan
 ALAT/MEDIA
•Gaya belajar
 EVALUASI
•Kecenderungan prilaku.
•Kecerdasan
•Fisik, motorik
•Emosi-sosial dll.
Contoh
ANALISIS MODEL KURIKULUM DAN PEMBELAJAR
AN INKLUSI
NAMA SISWA : ……………….. JENIS HAMBATAN: TUNANTERA
TUJUAN MATERI PROSES WAKTU ALAT EVALUASI

DUPLIKASI V V V V

MODIFIKASI V V V

SUBSTITUSI

OMISI
ANALISIS MODEL KURIKULUM DAN PEMBEL
AJARAN INKLUSI

TUNARUNGU
TUJUAN MATERI PROSES WAKTU ALAT EVALUASI

DUPLIKASI V V V V

MODIFIKASI V V V

SUBSTITUSI

OMISI
Contoh
ANALISIS MODEL KURIKULUM DAN PEMBELAJAR
AN INKLUSI
HAMBATAN KECERDASAN
TUJUAN MATERI PROSES WAKTU ALAT EVALUASI

DUPLIKASI V

MODIFIKASI V V V V V V

SUBSTITUSI

OMISI
SILABUS DAN RPP
DALAM PEND. INKLUSIF

Format sama tetapi kontennya ham


pir sebagain besar berbeda. Yang
ABK DENGAN HAMBATAN KECE
berbeda di antaranya aspek idikato
RDASAN
r, materi, KBM, alat, dan evaluasi

FORMAT sama dan kontennya rela


tif sama dengan model yang umum
ABK TIDAK MENGALAMI HAMB , kecuali dalam berapa aspek. Misa
ATAN KECERDASAN lnya dalam:
• KBM,
• ALAT
• CARA EVALUASI.
2 MODEL SILABUS DAN RPP
DALAM PEND. INKLUSIF

TERINTEGRASI DENGAN SILABUS


/RPP UMUM

BERDIRI SENDIRI (INDIVIDUAL)


(PPI)
TERIMA KASIH
REALITA PENDIDIKAN
INKLUSIF
• Saat ini sudah banyak lembaga PAUD reguler y
ang menerima siswa ABK,
• belum dapat melaksanakan layanan pembelaj
aran inklusif yang optimal karena beberapa ko
ndisi yang dipersyaratkan belum terpenuhi.
• Beberapa PAUD swasta telah berupaya melaks
anakan pendidikan inklusif secara baik
• Kebijakan tentang pendidikan inklusif untuk anak usia d
ini perlu terus diperkuat dan diperluas.
• menguatkan pemahaman dan kompetensi guru-guru P
AUD dalam memberi layanan pendidikan kepada anak
berkebutuhan khusus,
• menyediakan kurikulum dan sistem pembelajaran yang
akomodatif,
• Menyediakan sumber daya manusia pendukung yaitu G
uru Pembimbing khusus (GPK) dan guru pendamping (s
hadow teacher),
• Menyediakan lingkungan fisik dan sarana yang ramah (
aksesibel) bagi anak berkebutuhan khusus,
• membangun sikap dan perilaku yang positif dari semua
element masyarakat sekokah terhadap anak berkebutu
han khusus.
• pelatihan secara berkalanjutan bagi guru-guru PAUD te
ntang pendidikan dan pembelajaran untuk anak berkeb
utuhan khusus,
• Perlu kegiatan sosialisasi kepada seluruh element masy
arakat sekolah,
• Perlu analisis dan penataan ulang lingkungan fisik dan s
arana sekolah supaya ramah bagi ABK,
• perlu disediakan naskah-naskah panduan pelaksanaan
pendidikan inklusif